Hermawan Wijaya: BSD City Terkait Pembangunan Prinsip ESG

Direktur BSDE Hermawan Wijaya
Direktur BSDE Hermawan Wijaya

Jakarta | EGINDO.co – Direktur PT Bumi Serpong Damai Tbk, pengembang BSD City, Hermawan Wijaya mengatakan BSD City terkait erat dengan konsep pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan sesuai prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) yang diterapkannya.

Untuk itu katanya pembangunan perkantoran di BSD City didesain lebih ramah lingkungan sesuai kebutuhan gaya hidup masyarakat urban seperti Green Office Park, kantor pusat Unilever, The Breeze, dan Q-Big.

Menurutnya dengan menerapkan konsep green property, seperti pemasangan panel-panel surya pada gedung-gedung perkantoran, Hermawan mengklaim pihaknya dapat melakukan efisiensi dalam operasional dan perawatan. Hal itu juga diklaim mampu meningkatan kesehatan dan produktivitas penghuni.

“Hingga 2022 kami mampu mengurangi 13% emisi karbon. Bahkan, untuk bangunan komersial seperti gedung perkantoran BSD Green Office Park pun memiliki occupancy rate di atas 90%,” kata Hermawan.

Baca Juga :  APP Sinarmas: 3 Heli, 800 Personel Patroli Karhutla Riau

Diakuinya selanjutkannya akan lebih banyak menggunakan Internet of Things (IoT) untuk melakukan inisiatif green. Hal itu termasuk melihat berapa banyak energi yang sudah digunakan, termasuk melakukan penghematan air.

Dijelaskannya tentang BSD City semula merupakan hamparan hutan karet. Baru pada sekitar 1989 kawasan BSD City mulai dibangun di atas lahan seluas 1.500 hektare. Pembangunan dilakukan oleh konsorsium PT Bumi Serpong Damai yang terdiri atas kelompok usaha Sinar Mas, Salim, hingga Pembangunan Jaya.

Perkembangan BSD City menjadi semakin pesat ketika jalan tol BSD – Bintaro – Pondok Indah – TB Simatupang bisa digunakan. Hal tersebut berdampak pada naiknya harga rumah di kawasan BSD City menjadi dua kali lipat dari harga sebelumnya. Empat pilar pengembangan konsep livable city yang dilakukan oleh Sinar Mas Land, yaitu live, learn, work, and play.

Baca Juga :  Jangan Asal, Paseo Cara Membersihkan Wajah Bebas Bakteri

Live mengacu pada sarana prasarana yang mendukung kebutuhan hidup masyarakat, seperti hunian, pusat perbelanjaan hingga akses jalan. Learn merujuk sarana dan prasarana pendidikan. Work mengacu pada sarana dan prasarana kebutuhan kerja seperti perkantoran hingga area komersial.

Sedangkan play sebagai sarana dan prasarana untuk mendukung kebutuhan emosional dan rekreasi masyarakat. Setiap lima tahun, BSD City terus mengembangkan berbagai kawasan, mulai dari hunian, komersial, hingga pembangunan properti yang berkelanjutan atau green property.

Tujuannya ingin membangun BSD City menjadi kota mandiri yang terus bertumbuh sebagai sustainable city yang adaptif. Dalam lima tahun ke depan akan fokus membangun pusat-pusat kuliner dan mengembangkan tempat hiburan (leisure and recreation) di BSD City. Untuk transportasi, pihaknya akan membangun Transit Oriented Development (TOD) yang lebih smooth seperti di Hong Kong. Juga akan mempercantik dua stasiun TOD yang sudah ada.

Baca Juga :  Penjualan Lokal Kertas Grup Sinarmas, INKP Dan TKIM Naik

BSD City sebagai livable city, kata CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda, bukan sekadar klaim meskipun masih baru tahap awal. Sebab kehadiran BSD City sudah tergolong wilayah pemukiman yang jauh lebih tertata ketimbang Jakarta, dan mulai bertransformasi menjadi kota mandiri.@

Bs/fd/timEGINDO.co

Bagikan :