Franky: Sinarmas Mendukung CPO Menjadi Bahan Bakar Pesawat

Chairman Sinar Mas Agribusiness Food, Franky Oesman Widjaja (kanan) saat memberikan pemaparan di acara kegiatan Indonesia Sustainability Forum
Chairman Sinar Mas Agribusiness Food, Franky Oesman Widjaja (kanan) saat memberikan pemaparan di acara kegiatan Indonesia Sustainability Forum

Jakarta | EGINDO.co – Anak pendiri Sinarmas Grup menyebutkan minyak sawit atau CPO bisa mewujudkan bahan bakar pesawat ramah lingkungan. Dia adalah Chairman Sinar Mas Agribusiness & Food, Franky Oesman Widjaja.

Dirinya optimistis dengan pengembangan lebih jauh bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar pesawat udara yang ramah lingkungan (sustainable aviation fuel).

“Kami di Sinarmas selalu berfokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan. Dengan bahan bakar penerbangan yang ramah lingkungan ini,” kata Franky Oesman Widjaja ketika gelaran diskusi bertemakan Fuels of the Future for Low Carbon Industri Solution Jumat lalu di Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN Indonesia) di Jakarta.

Baca Juga :  3 Juta Orang Lebih Telah Mengungsi Dari Pertempuran Ukraina

Dalam paparannya, anak dari pendiri Sinarmas grup Eka Tjipta Widjaja itu menjelaskan bahwa komoditas kelapa sawit, adalah salah satu sumber daya alam terbesar Indonesia. Komoditas yang mampu menyediakan mata pencaharian bagi lebih dari 17 juta orang yang berada di pedesaan Indonesia.

Franky menjelaskan dengan luasan delapan persen dari total lahan yang digunakan untuk memproduksi minyak nabati, setidaknya dapat memasok 40 persen dari kebutuhan minyak nabati dunia saat ini. Artinya, kelapa sawit berperan sebagai potensi biosolusi yang dimiliki Indonesia yang juga dapat menjadi jawaban bagi kebutuhan dunia akan bahan bakar nabati rendah karbon berkelanjutan.

Selain itu, minyak kelapa sawit juga menjadi kontributor utama ekspor Indonesia yang tahun 2022 tercatat bernilai sekitar USD 40 miliar. Capaian tersebut berasal dari karakteristik minyak kelapa sawit sebagai minyak nabati paling produktif yang mampu menghasilkan lima hingga 10 kali lebih banyak per hektar perkebunan, dibandingkan dengan minyak nabati lain yang ada.

Baca Juga :  Rekor 2.700 Migran Capai Area Ceuta Spanyol Dalam Satu Hari

Kata Franky, Indonesia telah mendekarbonisasi ekonominya melalui program B-35 yang merupakan kebijakan pencampuran bahan bakar nabati terbesar di dunia dengan target penyaluran hingga 13,15 juta kiloliter biodiesel di tahun 2023.

Sementara itu pada kesempatan yang sama, President Airbus Asia-Pacific, Anand Stanley mengatakan bahwa Airbus sebagai perusahaan penerbangan ramah lingkungan telah berkomitmen mengurangi konsumsi bahan bakar sebesar 80% selama 50 tahun terakhir.

Kata Anand Stanley pihaknya berkomitmen menekan jejak karbon tidak hanya dari hasil pembakaran bahan bakar di udara namun juga termasuk seluruh siklus bahan bakar itu mulai dari produksinya.

Dikatakannya, tantangan yang dihadapi Airbus, perusahaan penerbangan ini dalam mewujudkan penerbangan ramah lingkungan adalah suplai bahan bakar penerbangan ramah lingkungan yang masih sangat minim.

Baca Juga :  Lagi, DKI Jakarta Perpanjang PPKM Mikro Hingga 5 April

“Pada tahun 2030 kami berharap seluruh penerbangan dapat 100% menggunakan bahan bakar ramah lingkungan,” katanya menegaskan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Airbus berharap dapat bekerja sama dengan banyak stakeholder, khususnya di Asia-Pacific untuk terus berinovasi mengembangan bahan bakar penerbangan ramah lingkungan dan mengatur agar kapasitas produksi dapat memenuhi kebutuhan.@

Bs/timEGINDO.co

Bagikan :