Yield SRBI Turun Hampir 100 Basis Poin, BI Pastikan Aliran Modal Asing Tetap Deras

Ilustrasi Grafik Keuangan dan Kalibrasi Moneter SRBI
Ilustrasi Grafik Keuangan dan Kalibrasi Moneter SRBI

Jakarta|EGINDO.co Bank Indonesia (BI) terus melakukan kalibrasi terukur terhadap instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Meskipun tingkat imbal hasil (yield) mengalami penurunan signifikan hingga hampir 100 basis poin (bps), BI memastikan daya tarik instrumen moneter ini di mata investor asing tetap terjaga berkat berbagai insentif strategis.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa bank sentral secara bertahap meracik ulang suku bunga dan volume likuiditas. Langkah pelonggaran ini difokuskan untuk mengurangi SRBI tenor panjang—seperti 6, 9, dan 12 bulan—agar likuiditas dapat lebih leluasa beredar di dalam sistem keuangan.

“Yield itu tertinggi kan pernah 7,74%, dan pada lelang Jumat [25/9/2026] kemarin kita sudah berada di 6,76%. Sudah hampir 100 basis poin kita kalibrasi,” ujar Erwin dalam Taklimat Media BI di Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Volume Penempatan Melandai, Insentif Hedging Jadi Daya Tarik

Seiring dengan penurunan yield, volume penempatan dana atau outstanding SRBI terpantau melandai dari level tertingginya sebesar Rp1.096,86 triliun pada 15 Juli 2026 menjadi Rp1.028,15 triliun per 28 September 2026.

Kendati demikian, BI optimis investor asing tidak akan meninggalkan instrumen ini. Kuncinya terletak pada fasilitas insentif lindung nilai (hedging) yang ditawarkan BI. Investor asing dapat memanfaatkan portofolio SRBI sebagai underlying untuk menikmati diskon premi, meliputi:

  • Diskon Premi Swap Beli Lindung Nilai: Pemangkasan hingga 25% untuk tenor 12 bulan.

  • Potongan Premi DNDF: Pemangkasan sebesar 30% untuk tenor yang sama.

“Jadi dengan hitung-hitungan insentif meskipun 6,76% itu masih cukup menarik secara spread kalau dibandingkan dengan pilihan investasi mereka secara global,” tambah Erwin.

Posisi SBN Tetap Kompetitif di Tengah Pasar Global

Selain SRBI, daya tarik Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia juga dinilai masih tangguh. Berdasarkan data 28 September 2026, selisih (spread) yield SBN tenor 10 tahun terhadap US Treasury (UST) berada di kisaran 186 bps. Dengan posisi yield SBN 10 tahun di level 7,09% dan UST di atas 5%, obligasi pemerintah Indonesia terbukti masih lebih kompetitif dibandingkan negara peers di kawasan, seperti India (195 bps) dan Filipina (185 bps).

Daya tahan instrumen keuangan domestik ini berbuah manis pada aliran modal asing (inflow). Tercatat hingga 28 September 2026, inflow secara tahun berjalan (year to date/YtD) menembus angka Rp131 triliun, dengan rincian:

  • SRBI: Rp165,59 triliun

  • Pasar SBN: Rp27,51 triliun

  • Pasar Saham: Mengalami outflow sebesar Rp62,10 triliun sepanjang 2026. (Sn)

Scroll to Top