Tokyo | EGINDO.co – Yen Jepang melonjak ke level tertinggi dalam hampir tujuh bulan pada hari Selasa, karena meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BOJ) pekan depan membuat para pedagang yang bertaruh pada pelemahan mata uang (*bearish*) bergegas mencari perlindungan, sehingga menekan dolar menjelang rilis data inflasi AS pekan ini.
Yen sempat menguat hingga mencapai 152,89 per dolar, melampaui level yang tercatat saat intervensi Jepang pada bulan Juli dan mencapai posisi terkuatnya sejak Februari. Namun, mata uang tersebut kemudian sedikit melemah dan diperdagangkan di level 154 pada sesi pagi di London.
Mata uang Jepang kini telah menguat sekitar 4 persen dari posisi sekitar 160 yen per dolar pada awal pekan lalu.
Para pedagang dan analis menyatakan bahwa sejumlah faktor kini mendorong perubahan besar bagi mata uang tersebut, yang membuat para pelaku pasar yang sebelumnya bertaruh pada pelemahan yen kini mengubah posisi mereka. Faktor-faktor ini mencakup spekulasi mengenai langkah pengetatan kebijakan yang lebih cepat oleh Bank of Japan, potensi repatriasi dana oleh investor Jepang, pembatalan posisi *carry trade*, serta tekanan politik dari AS.
“Ini lebih tampak sebagai arus yang digerakkan oleh pasar; kemungkinan investor mulai lebih mempertimbangkan kemungkinan BOJ mengambil sikap yang lebih *hawkish* (cenderung menaikkan suku bunga) pada pertemuan berikutnya,” ujar Dominic Bunning, kepala strategi valuta asing G10 di Nomura, London.
“Namun, akan cukup sulit bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga lebih cepat daripada yang telah diantisipasi pasar atau mencapai tingkat suku bunga puncak (*terminal rate*) yang lebih tinggi. Jika pelemahan yen sempat menjadi salah satu pertimbangan mereka dari sisi inflasi, hal itu jelas bukan lagi menjadi masalah utama.”
Sebagian besar pedagang memperkirakan bank sentral akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen pada pertemuan tanggal 17-18 September.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama pada hari Selasa menyatakan bahwa Tokyo dan Washington tetap memiliki kesamaan pandangan dalam pendekatan terhadap pasar mata uang dan akan terus menjalin komunikasi erat guna memastikan pergerakan nilai tukar yang tertib.
Menanti Pertemuan ECB dan Data AS
Indeks dolar, yang mengukur kinerja mata uang AS terhadap enam mata uang utama lainnya, bergerak datar di level 98,93, terutama karena nilai tukar euro juga cenderung stabil di angka $1,1615. Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan secara luas akan menaikkan suku bunga pada hari Kamis, di tengah berlanjutnya konflik AS-Iran yang memicu tingginya harga minyak dan mendorong kenaikan inflasi. Fokus pasar kini beralih ke data inflasi AS minggu ini, yang merupakan rangkaian data penting terakhir sebelum pertemuan The Fed pada 15-16 September. Para pelaku pasar memperkirakan adanya peluang sekitar 60 persen bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga bulan ini, menyusul laporan *nonfarm payrolls* hari Jumat yang menunjukkan hasil lebih kuat dari perkiraan.
Gubernur The Fed Christopher Waller pekan lalu menyatakan bahwa dinamika inflasi merupakan faktor kunci dalam pandangan kebijakannya; ia cenderung mempertahankan suku bunga tetap jika tekanan harga terus melandai, namun akan mendukung kenaikan suku bunga jika inflasi tidak juga mereda.
Investor juga memantau ketegangan geopolitik di kawasan Teluk serta dampaknya terhadap inflasi, setelah kelompok Houthi di Yaman—yang didukung oleh Teheran—menyerang fasilitas energi dan kota-kota di Arab Saudi (sekutu AS). Serangan tersebut melukai lebih dari 70 orang dan menyoroti risiko meluasnya konflik yang melibatkan Iran.
Harga minyak bertahan di dekat level tertinggi dalam enam minggu, dengan harga minyak mentah berjangka Brent tetap kokoh di atas US$99 per barel.
Nilai tukar pound sempat menguat ke level tertinggi dalam satu minggu sebelum turun kembali ke posisi US$1,3525, sementara investor menantikan komentar dari sejumlah pejabat pembuat kebijakan Bank of England, termasuk Gubernur Andrew Bailey.
Sumber : CNA/SL