Jakarta | EGINDO.com  – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan agar tidak menggambarkan varian Omicron sebagai varian ringan.
WHO menegaskan bahwa varian Omicron membunuh orang di seluruh dunia.
Dilansir BBC, studi terbaru menunjukkan bahwa Omicron cenderung membuat orang sakit parah daripada varian Covid sebelumnya.
“Rekor jumlah orang yang tertular telah membuat sistem kesehatan di bawah tekanan berat,” kata kepala WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Pada Senin (3/1/2022), Amerika Serikat (AS) mencatat lebih dari satu juta kasus Covid-19 dalam 24 jam.
WHO mengatakan jumlah kasus global telah meningkat sebesar 71 persen pada minggu lalu, dan di Amerika sebesar 100 persen.
Dikatakan bahwa di antara kasus-kasus parah di seluruh dunia, 90 persen tidak divaksinasi.
“Meskipun Omicron tampaknya tidak terlalu parah dibandingkan dengan Delta, terutama pada mereka yang divaksinasi, itu tidak berarti itu harus dikategorikan sebagai ringan,” kata Dr Tedros pada konferensi pers pada hari Kamis.
“Sama seperti varian sebelumnya, Omicron membuat orang di rawat di rumah sakit dan membunuh orang,” imbuhnya.
Omicron sangat menular dan dapat menginfeksi orang bahkan jika mereka telah divaksinasi lengkap.
Namun, vaksin tetap penting karena membantu melindungi dari penyakit parah yang dapat membuat Anda dirawat di rumah sakit, kata Dr Tedros.
Di benua Eropa, pada Kamis (6/1/2022), Inggris melaporkan 179.756 kasus dan 231 kematian terkait Covid.
Sejumlah rumah sakit telah menyatakan situasi “kritis” karena kurangnya staf dan meningkatnya tekanan akibat Covid.
Di tempat lain, juga mengalami hal serupa.
Menteri Kesehatan Prancis Olivier Veran memperingatkan minggu ini bahwa Januari akan sulit bagi rumah sakit.
Presiden Serbia, Aleksandar Vucic, mengatakan sistem perawatan kesehatan negara itu saat ini berada di bawah tekanan besar.
Negara ini mencatat lebih dari 9.000 kasus pada hari Kamis, menurut media lokal .
Dalam komentar terbarunya, Dr Tedros mengulangi seruannya untuk distribusi vaksin yang lebih besar untuk membantu negara-negara miskin menekan populasi mereka.
Sumber: Tribunnews/Sn