Jakarta|EGINDO,co Penyakit campak pada orang dewasa masih kerap dianggap ringan, padahal dampaknya tidak hanya berisiko bagi kesehatan, tetapi juga berpotensi menimbulkan beban ekonomi yang signifikan. Aditya Susilo menegaskan bahwa infeksi campak pada kelompok dewasa, terutama yang memiliki sistem imun lemah, dapat berkembang menjadi kondisi serius yang memerlukan penanganan intensif.
Kelompok rentan seperti penderita HIV, pasien kanker yang menjalani kemoterapi, serta ibu hamil menghadapi risiko komplikasi lebih tinggi. Dalam kondisi tersebut, virus campak dapat menyebar secara agresif dan memicu gangguan berat seperti pneumonia, ensefalitis, hingga infeksi mata yang berujung pada kebutaan bahkan kematian.
Secara statistik, komplikasi berat memang tergolong jarang—sekitar 1 dari 1.000 kasus. Namun, ketika terjadi, dampaknya tidak hanya mengancam jiwa, tetapi juga meningkatkan biaya layanan kesehatan, mulai dari rawat inap, perawatan intensif, hingga kehilangan produktivitas tenaga kerja.
Laporan sejumlah media kesehatan internasional seperti World Health Organization dan Centers for Disease Control and Prevention turut menyoroti bahwa lonjakan kasus campak di berbagai negara dalam beberapa tahun terakhir berkontribusi pada meningkatnya tekanan terhadap sistem kesehatan dan anggaran publik. Penyakit yang sebenarnya dapat dicegah ini justru menimbulkan biaya yang jauh lebih besar ketika penanganan dilakukan setelah infeksi terjadi.
Dalam konteks ekonomi kesehatan, langkah preventif melalui vaksinasi dinilai jauh lebih efisien. Biaya imunisasi relatif rendah dibandingkan dengan pengeluaran untuk penanganan komplikasi yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per pasien, terutama jika membutuhkan perawatan intensif.
Fenomena anggapan bahwa campak hanyalah “penyakit ringan” juga menjadi tantangan tersendiri. Persepsi ini berpotensi menurunkan cakupan vaksinasi, yang pada akhirnya meningkatkan risiko wabah dan memperbesar beban ekonomi baik bagi individu maupun negara.
Dengan demikian, edukasi publik dan peningkatan kesadaran terhadap pentingnya vaksinasi menjadi kunci, tidak hanya untuk melindungi kesehatan masyarakat, tetapi juga untuk menjaga stabilitas ekonomi dari potensi pembengkakan biaya kesehatan yang sebenarnya dapat dicegah sejak dini. (Sn)