Wall Street Melemah Akibat Minyak $100 dan Kekhawatiran Inflasi Bebani Investor

Wall Street - New York
Wall Street - New York

New York | EGINDO.co – Wall Street ditutup melemah pada hari Rabu, dengan harga minyak masih bertahan di atas US$100 per barel, di tengah ketegangan yang terus berlanjut di kawasan Teluk dan kekhawatiran inflasi yang membebani sentimen investor.

Ketiga indeks utama AS berakhir di zona merah. Dow Jones Industrial Average turun 0,77 persen, S&P 500 melemah 0,48 persen, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,64 persen. Indeks saham global MSCI juga turun 0,52 persen setelah penutupan pasar AS.

Pergerakan saham cenderung negatif sepanjang hari, terutama karena perhatian pasar tertuju pada lonjakan harga minyak yang menembus angka US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak bulan Juli. Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dekat Selat Hormuz setelah AS menenggelamkan lima kapal tanker minyak milik Iran.

Harga minyak mentah Brent ditutup naik 3,4 persen hari itu menjadi US$101,21 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$3,02 atau 3,25 persen menjadi US$96,05 per barel. Kedua harga tersebut mencatatkan level penutupan tertinggi sejak bulan Mei.

Pada saat yang sama, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 3,66 basis poin menjadi 4,841 persen—level tertinggi sejak November 2023—setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana pembelian kembali obligasi pemerintah berjangka waktu 10 hingga 20 tahun senilai hingga US$6 miliar. Nilai pembelian kembali ini lebih tinggi dari angka US$4 miliar yang sebelumnya diisyaratkan oleh Departemen Keuangan. Beberapa analis sebelumnya memperkirakan pembelian dalam jumlah lebih besar untuk mendukung obligasi berdurasi panjang.

“Menembusnya harga minyak Brent di atas US$100 merupakan tonggak psikologis penting bagi pasar, namun kekhawatiran yang lebih besar adalah dampaknya terhadap inflasi. Guncangan harga minyak yang berkepanjangan dapat menjaga tekanan harga tetap tinggi dan mempersulit langkah bank sentral yang saat ini sudah harus menghadapi lingkungan kebijakan yang penuh tantangan,” ujar Lukman Otunuga, Kepala Riset Pasar di FXTM.

Keputusan Bank Sentral Menanti

Mata uang euro menguat tipis menjelang keputusan kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) pada hari Kamis, di mana pasar secara luas memperkirakan adanya kenaikan suku bunga akibat tekanan inflasi yang dipicu oleh konflik terkait Iran. Yen menguat mendekati level tertinggi dalam hampir tujuh bulan terhadap dolar pada hari Selasa seiring para pedagang melepas posisi *short* (jual) pada mata uang Jepang tersebut. Muncul ekspektasi yang semakin kuat mengenai kenaikan suku bunga yang lebih cepat oleh Bank of Japan serta potensi lonjakan repatriasi modal Jepang.

Indeks dolar, yang mengukur nilai mata uang AS terhadap sekeranjang mata uang termasuk yen dan euro, naik 0,05 persen ke level 98,83.

Laporan harga produsen dan konsumen AS dijadwalkan akan dirilis akhir pekan ini, di mana para pembuat kebijakan menantikan bukti lebih lanjut bahwa tekanan inflasi terus mereda.

Survei terbaru Reuters terhadap para ekonom menunjukkan sekitar 70 persen memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan kebijakan pekan depan; angka ini lebih rendah dibandingkan ekspektasi 90 persen untuk suku bunga tetap pada bulan Agustus.

“Pasar keuangan benar-benar terbelah pendapatnya mengenai apakah FOMC akan menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan September pekan depan—sebuah situasi ketidakpastian yang tidak lazim menjelang tanggal pengambilan keputusan,” ujar Matthew Ryan, kepala strategi pasar di perusahaan jasa keuangan global Ebury.

Harga emas naik 0,98 persen menjadi sekitar $4.396 per ons.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top