Varian Covid Brazil Bisa Menginfeksi Lagi Pasien Sembuh

Ilmuwan meneliti kandidat vaksin COVID-19, sebuah tambalan seukuran ujung jari dengan jarum mikroskopis yang dapat larut, di Universitas Pittsburgh, Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat
Ilmuwan meneliti kandidat vaksin COVID-19, sebuah tambalan seukuran ujung jari dengan jarum mikroskopis yang dapat larut, di Universitas Pittsburgh, Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat

London, | EGINDO.co  – Varian COVID-19 sangat menular yang mulanya muncul di Brazil dan kini telah ditemukan di sedikitnya 20 negara dapat menginfeksi lagi pasien yang telah sembuh, menurut para peneliti.  Dalam riset kemunculan virus mutan dan penyebarannya di kota hutan Manaus, Amazon, para peneliti mengatakan varian – yang dikenal sebagai P.1 – “memiliki gambaran mutasi yang unik” dan sangat cepat menjadi varian dominan yang beredar di wilayah tersebut.

Dari 100 orang di Manaus yang sebelumnya sembuh dari infeksi COVID-19, “sekitar 25-61 di antaranya rentan terhadap infeksi ulang P.1,” kata Nuno Faria, ahli virus di Imperial College London, yang juga menjadi ketua riset yang belum ditinjau oleh rekan sejawat. Para peneliti memperkirakan bahwa P.1 1,4-2,2 lebih menular dari bentuk awal virus.

Berbicara saat konferensi pers soal temuan tersebut, Nuno mengatakan terlalu dini untuk mengatakan apakah kemampuan varian tersebut untuk menyingkirkan imun dari infeksi sebelumnya mengartikan bahwa vaksin juga akan memberikan sedikit perlindungan terhadapnya. “Tidak ada bukti kesimpulan yang benar-benar menunjukkan bahwa vaksin yang sekarang tidak akan ampuh melawan P.1,” kata Faria. “Saya rasa (vaksin) setidaknya akan melindungi kami dari penyakit, dan kemungkinan juga dari infeksi.”

Para ilmuwan di seluruh dunia mewaspadai bentuk mutasi baru virus corona yang dapat menyebar lebih mudah, atau lebih kuat menangkis vaksin yang ada. Riset, yang dilakukan oleh para ilmuwan di universitas Sau Paulo Brazil dan Oxford Inggris, memperlihatkan bahwa varian P.1 kemungkinan muncul di Kota Manaus pada awal November 2020.

Infeksi pertama diidentifikasi pada 6 Desember, sebut Faria. “Kami lantas melihat bagaimana P.1 dengan cepat menyalip garis keturunan lainnya dan kami menemukan bahwa proporsi tumbuh P.1 dari nol hingga 87 persen selama sekitar delapan pekan.’@

rtr/ant/TimEGINDO.co