Medan|EGINDO.co Keuskupan Agung Medan menyampaikan kabar duka: Uskup Emeritus, Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara OFMCap, meninggal dunia pada Jumat, 17 Oktober 2025 pukul 09.13 WIB di Rumah Sakit St. Elisabeth Medan.
Kabar tersebut dikonfirmasi oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, yang menyebut bahwa kepergian Mgr. Pius adalah kehilangan besar bagi Gereja Katolik dan masyarakat di Sumatera Utara. Menurut Mgr. Kornelius, “Beliau adalah gembala penuh kasih yang telah menggembalakan umat Allah di Keuskupan Agung Medan selama lebih dari tiga dekade.”
Jenazah almarhum akan disemayamkan di Gereja Katedral Medan, Jalan Pemuda No. 1. Rangkaian perayaan Ekaristi serta penghormatan akan dijadwalkan kemudian oleh pihak Keuskupan.
Kenangan Umat: Gembala yang Rendah Hati dan Pendoa Setia
Sejumlah umat menyampaikan kesan mendalam tentang cara pelayanan Mgr. Pius. Seorang umat dari Balige, Ary Hutapea (35), mengenang bahwa selepas Misa, beliau acap kali mendoakan umat satu per satu, bahkan rela menunda waktu makan demi mendoakan yang hadir.
Citra kesederhanaan dan kerendahan hati tersebut makin diperkuat ketika media Detik menyebut bahwa almarhum merupakan “Uskup Emeritus … tutup usia pada usia 91 tahun.”
Dalam liputan Pen@ Katolik juga disebut bahwa dalam pelayananannya, Mgr. Pius dikenal sebagai tokoh yang membangun jembatan persaudaraan antaragama dan memperjuangkan martabat manusia.
Jejak Hidup dan Pelayanan
-
Mgr. Pius Datubara lahir pada 12 Februari 1934.
-
Ia ditahbiskan sebagai imam pada 22 Februari 1964 oleh Uskup Agung Medan waktu itu, Antoine Henri van den Hurk.
-
Pada 5 April 1975, ia diangkat menjadi Uskup Auksilier Medan dengan gelar Uskup Tituler Novi, dan ditahbiskan pada 29 Juni 1975 oleh Justinus Kardinal Darmojuwono.
-
Pada 24 Mei 1976, ia resmi menggantikan posisi Uskup Agung Medan dan memimpin hingga pengunduran dirinya pada 12 Februari 2009.
Menurut catatan Wikipedia, Mgr. Pius juga dikenal sebagai uskup Katolik pertama yang berasal dari kalangan suku Batak dan ia memimpin Keuskupan Agung Medan selama hampir 33 tahun lebih.
Sepanjang masa pelayanan, ia menjadi teladan bagi banyak imam, religius, dan umat Katolik di Sumatera Utara khususnya, dengan semangat pelayanan yang berakar dalam doa, kelemahlembutan, dan pengabdian tanpa pamrih.
Sumber: Tribunnews.com/Sn