Urgensi Penambahan Geosite Bonandolok–Hasinggaan dalam Kerangka Rekomendasi UNESCO Global Geoparks: Sebuah Naskah Opini Akademik

Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_EC., M.Si
Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_EC., M.Si

Oleh: Dr.Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec.,Dipl_Plan.,Dipl_Lingg.,M.Si

Pendahuluan

Rekomendasi UNESCO melalui pedoman UNESCO Global Geoparks menegaskan bahwa pengelolaan geopark harus berbasis pada integrasi geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity dengan prinsip konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, kawasan Bonandolok–Hasinggaan di Kabupaten Samosir memiliki urgensi kuat untuk ditetapkan sebagai geosite baru dalam jejaring Toba Caldera UNESCO Global Geopark.

Opini akademik ini menegaskan bahwa penambahan Geosite Bonandolok–Hasinggaan bukan sekadar perluasan administratif, melainkan langkah strategis untuk memperkuat kualitas, integritas, dan keberlanjutan pengelolaan geopark Kaldera Toba secara menyeluruh.

Argumentasi Akademik: Mengapa Perlu Penambahan Geosite Baru?

  1. Penguatan Nilai Geodiversity Kaldera Toba

Sebagai bagian dari sistem supervulkanik purba, kawasan ini merepresentasikan dinamika geomorfologi Kaldera Toba melalui:

  • Air Terjun Sitapigagan
  • Air Terjun Harangan Bulu Sitiris-tiris
  • Formasi batuan vulkanik alami
  • Sistem hidrologi embung alami

Keberadaan lanskap ini memperkaya interpretasi ilmiah tentang proses pasca-erupsi besar Kaldera Toba. Dalam perspektif UNESCO, suatu geopark wajib terus mengembangkan inventaris geosite yang memiliki nilai ilmiah, edukatif, dan estetika yang terukur. Tanpa penambahan geosite yang representatif, kualitas interpretasi geologi kawasan dapat stagnan.

Bonandolok–Hasinggaan menghadirkan kombinasi unik antara lanskap air terjun, lembah hijau, dan struktur batuan alami yang masih minim intervensi betonisasi. Hal ini selaras dengan prinsip konservasi lanskap alami sebagaimana direkomendasikan dalam Operational Guidelines UNESCO Global Geoparks.

  1. Integrasi Biodiversity sebagai Pilar Konservasi Terpadu

UNESCO menekankan bahwa geopark bukan hanya tentang batuan, tetapi tentang keterhubungan sistem bumi. Kawasan Harangan Bambu Hasinggaan memiliki fungsi ekologis penting:

  • Kawasan resapan air
  • Habitat fauna kecil
  • Penyerap karbon
  • Pengendali erosi

Selain itu, Embung Sitapigagan berpotensi ditetapkan sebagai waduk larangan untuk konservasi ikan lokal khas Batak (ihan). Pendekatan ini sejalan dengan prinsip konservasi berbasis masyarakat dan pengelolaan ekosistem perairan berkelanjutan.

Penambahan geosite ini akan memperkuat dimensi biodiversitas dalam jejaring geopark, yang selama ini cenderung lebih menonjolkan aspek geologi semata.

  1. Penguatan Cultural Diversity: Sarkofagus sebagai Lanskap Budaya

Sarkofagus Hasinggaan Dolok merupakan warisan megalitik yang mencerminkan:

  • Sistem kepercayaan tradisional Batak
  • Struktur genealogis masyarakat
  • Identitas budaya lokal

Dalam pendekatan geopark modern, lanskap budaya tidak dapat dipisahkan dari lanskap geologi. UNESCO secara eksplisit mendorong integrasi warisan budaya dalam narasi interpretasi geopark.

Tanpa perlindungan dan integrasi resmi dalam sistem geosite, warisan budaya ini rentan terhadap kerusakan dan kehilangan makna historisnya.

Geopark Sipinsur, objek wisata dikelola Pemerintah Humbang Hasundutan Sumatera Utara (Foto: Fadmin Malau)

Model Konservasi Terpadu sebagai Keunggulan Strategis

Penambahan Geosite Bonandolok–Hasinggaan memungkinkan implementasi model konservasi terpadu berbasis empat pilar:

Pilar Fungsi Strategis
Geodiversity Perlindungan lanskap vulkanik & air terjun
Biodiversity Konservasi hutan bambu & habitat alami
Aquatic Conservation Waduk larangan konservasi ikan ihan
Cultural Diversity Pelestarian sarkofagus & edukasi sejarah

Model ini dapat menjadi percontohan desa konservasi terpadu di kawasan Danau Toba.

Dampak Strategis Penambahan Geosite

  1. Dampak Ekologis
  • Pemulihan populasi ikan lokal
  • Stabilitas hidrologi kawasan
  • Pengurangan erosi dan degradasi lahan
  1. Dampak Sosial
  • Penguatan identitas budaya Batak
  • Peningkatan partisipasi masyarakat desa
  • Transfer pengetahuan antar generasi
  1. Dampak Ekonomi
  • Pengembangan ekowisata berbasis alam
  • UMKM berbasis bambu
  • Jasa pemandu wisata edukatif

Dengan demikian, penambahan geosite ini bukan hanya memenuhi rekomendasi UNESCO, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi hijau berbasis masyarakat.

Rekomendasi Kebijakan Strategis

  1. Penyusunan Peraturan Desa Konservasi Terpadu
  2. Penetapan Embung Sitapigagan sebagai Waduk Larangan
  3. Perlindungan Sarkofagus sebagai Cagar Budaya Desa
  4. Pengusulan resmi penambahan Geosite Bonandolok–Hasinggaan dalam struktur pengelolaan Toba Caldera UNESCO Global Geopark
  5. Integrasi sistem monitoring partisipatif berbasis masyarakat

Penutup: Momentum Penguatan Kualitas Geopark

Geopark yang sehat adalah geopark yang terus berkembang secara ilmiah dan kelembagaan. Penambahan Geosite Bonandolok–Hasinggaan bukan sekadar perluasan wilayah, melainkan penguatan kualitas pengelolaan berbasis konservasi terpadu.

Jika rekomendasi UNESCO tentang integrasi geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity ingin diwujudkan secara konkret, maka kawasan ini layak menjadi bagian resmi dalam jejaring geopark Kaldera Toba.

Langkah ini akan menegaskan bahwa pembangunan pariwisata di Kabupaten Samosir bukanlah eksploitasi lanskap, melainkan strategi pelestarian jangka panjang yang memadukan alam, budaya, dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.@

***

Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS_GI)

Scroll to Top