Washington | EGINDO.co – Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz bisa tercapai paling cepat hari Rabu (5 Agustus), namun memperingatkan Iran bahwa mereka akan “dipukul dengan sangat keras” jika negosiasi gagal.
Lalu lintas di jalur perairan tersebut—yang merupakan saluran utama bagi pasokan minyak dan gas global—telah menjadi titik perdebatan dalam perundingan dan memicu kembali pertempuran setelah gencatan senjata bulan April.
Iran telah memperketat kendalinya atas Hormuz dan berkeinginan menguasai selat tersebut serta memungut biaya lintas—wewenang yang tidak mereka jalankan sebelum perang dimulai pada 28 Februari.
Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Hormuz bisa terjadi “besok atau lusa”, seraya menyampaikan kepada para wartawan di California bahwa tim negosiasi “mengalami hari yang sangat baik”.
Sebelumnya, ia melontarkan nada yang lebih mengancam.
“Selat itu akan segera dibuka, atau mereka akan dipukul dengan sangat keras—dan kemudian selat itu tetap akan dibuka,” ujar Trump dalam sebuah wawancara dengan Fox News.
“Satu-satunya jalan keluar adalah dengan bertempur.”
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan kepada CNBC bahwa “ada kemungkinan kita akan mencapai kesepakatan” pada hari Rabu atau Kamis.
Menyoroti situasi yang tidak stabil, seorang awak kapal dilaporkan hilang pada hari Selasa dari sebuah kapal dagang yang terkena proyektil di Hormuz, sementara sebuah kapal India di Laut Merah tenggelam setelah serangan yang pelakunya tidak diketahui.
Dalam pola yang berulang, pekan lalu Trump mengancam akan memukul Iran “dengan sangat keras”—yang berpotensi mencakup serangan terhadap infrastruktur sipil—namun kemudian melunak dengan mengisyaratkan bahwa kesepakatan sudah dekat.
Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya negosiasi dengan Washington, meskipun Trump bersikeras bahwa perundingan tersebut sedang berlangsung.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan pada hari Selasa bahwa Amerika Serikat terlibat dalam negosiasi antara Oman dan Iran mengenai peningkatan lalu lintas melalui Selat Hormuz.
Media Axios melaporkan pada hari Selasa bahwa AS, Iran, dan Oman hampir mencapai kesepakatan sementara untuk membuka kembali selat tersebut, yang diharapkan Washington dapat diumumkan pada hari Rabu.
Axios, yang mengutip pejabat regional dan pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, menyatakan bahwa kesepakatan yang sedang dibahas adalah pengaturan selama 60 hari untuk menjamin pelayaran yang aman di selat antara Iran dan Oman tersebut.
Kesepakatan atau Penyerahan Diri
Qatar, yang bertindak sebagai penengah negosiasi, menyatakan bahwa upaya diplomatik masih terus berjalan namun tidak ada rencana pembicaraan langsung antara Iran dan AS. Pemimpinnya, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, berbicara melalui telepon dengan Trump pada hari Selasa; pihak Doha menyatakan bahwa mereka membahas “upaya untuk meredakan ketegangan.”
Sebelumnya, Trump mengatakan ia berharap sudah mengetahui perkembangan pembicaraan tersebut pada hari Selasa—”bagaimanapun hasilnya”—namun menegaskan bahwa masalah itu “tidak terlalu rumit.”
Tujuan diplomatik Washington mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan denuklirisasi Iran—hal yang diakui Trump mungkin “memakan waktu cukup lama.”
Presiden sebelumnya menyebut Teheran “bermuka dua” karena menyatakan tidak sedang bernegosiasi, seraya menambahkan bahwa blokade balasan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan tetap diberlakukan “kecuali jika Kesepakatan atau Penyerahan Diri Total tercapai.”
Setelah lebih dari lima bulan perang yang telah menelan biaya miliaran dolar bagi Washington, Iran masih mampu meluncurkan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke sasaran AS dan sekutunya di kawasan tersebut, serta ke kapal-kapal komersial.
Pada Selasa pagi, badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, melaporkan bahwa sebuah kapal kargo yang tidak disebutkan namanya terkena hantaman “proyektil tak dikenal” di Selat Hormuz, di lepas pantai Oman.
Iran terus menerapkan blokade efektif di selat tersebut dan bersikeras agar kapal-kapal berkoordinasi dengan mereka saat melintas.
Serangan di Laut Merah
Gangguan di Selat Hormuz semakin meningkatkan pentingnya jalur pelayaran melalui Laut Merah, wilayah di mana pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman telah menyatakan blokade maritim terhadap Arab Saudi.
Pelabuhan Yanbu milik Arab Saudi di Laut Merah memungkinkan negara itu untuk terus mengirimkan pasokan ke pasar global dengan menghindari Selat Hormuz sepenuhnya.
Namun, sejak mengumumkan blokade tersebut, kelompok Houthi mengaku telah menyerang sejumlah kapal yang mereka anggap melanggar aturan blokade.
Pada hari Selasa, kapal India MSV Faize Noore Oliya tenggelam di Laut Merah, lepas pantai Yaman, akibat serangan yang pelakunya tidak diketahui; seluruh awak kapal berhasil diselamatkan.
Laut Merah merupakan pintu gerbang menuju Terusan Suez; sebelumnya, rangkaian serangan Houthi terhadap kapal-kapal komersial selama perang Gaza memaksa perusahaan pelayaran untuk menempuh rute memutar yang jauh melalui ujung selatan Afrika.
Sumber : CNA/SL