Washington|EGINDO.co Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan komitmennya untuk memperkuat industri dalam negeri dengan merancang kebijakan tarif tinggi terhadap produk impor, khususnya di sektor farmasi. Dalam wawancara eksklusif bersama CNBC, Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya akan memulai penerapan tarif untuk obat-obatan impor, yang kemudian secara bertahap akan dinaikkan secara signifikan.
“Dalam kurun satu tahun hingga satu setengah tahun ke depan, tarif tersebut akan meningkat menjadi 150 persen, bahkan hingga 250 persen. Kami ingin obat-obatan diproduksi di negara kita sendiri,” ujar Trump pada Selasa (5/8/2025).
Trump tidak menjelaskan secara rinci besaran tarif awal yang akan diberlakukan, namun sebelumnya dalam pernyataan pada Februari 2025, ia pernah menyebut bahwa tarif awal untuk produk farmasi dan semikonduktor akan dimulai dari 25 persen atau lebih, dan terus meningkat secara progresif selama satu tahun. Langkah ini merupakan bagian dari strategi “America First” yang menjadi ciri khas kebijakan ekonominya sejak masa kepemimpinan sebelumnya.
Mengutip laporan Reuters, kebijakan tarif ini diperkirakan akan mulai berlaku dalam waktu dekat, seiring dengan rencana Trump yang juga akan mengumumkan tarif tambahan untuk produk semikonduktor dan chip dalam pekan mendatang. Meski begitu, detail kebijakan mengenai tarif semikonduktor tersebut belum diungkapkan secara spesifik.
Rencana ini memicu reaksi dari pelaku industri farmasi dan teknologi yang khawatir terhadap dampaknya pada rantai pasok global. Banyak pihak menilai kebijakan ini dapat meningkatkan harga obat di pasar domestik AS serta menimbulkan ketegangan dagang baru. Namun Trump menilai, kebijakan ini adalah upaya penting untuk membangun kembali kemandirian industri Amerika dan mengurangi ketergantungan terhadap impor, khususnya dari negara-negara seperti China dan India.
The Wall Street Journal dalam laporannya mencatat bahwa lebih dari 70 persen bahan baku aktif untuk obat yang beredar di Amerika Serikat masih dipasok dari luar negeri. Kebijakan tarif ini disebut Trump sebagai langkah strategis untuk mengurangi risiko ketergantungan tersebut, terutama setelah pandemi COVID-19 mengungkap kerentanan pasokan kesehatan global.
Sementara itu, para analis memperkirakan kebijakan ini dapat menimbulkan dinamika baru dalam hubungan dagang antara Amerika Serikat dan mitra dagangnya, terutama negara-negara pemasok bahan farmasi utama. Meski penuh kontroversi, Trump meyakini bahwa “melindungi industri vital” adalah langkah penting demi keamanan ekonomi nasional Amerika Serikat ke depan.
Sumber: rri.co.id/Sn