Tiga Perempuan APP Bahas Pembangunan Iklim Tangguh di COP28

Konferensi Perubahan Iklim COP28 UNFCCC di Expo City, Dubai
Konferensi Perubahan Iklim COP28 UNFCCC di Expo City, Dubai

Dubai | EGINDO.co – Konferensi Perubahan Iklim COP28 UNFCCC di Expo City, Dubai, ditutup dengan kesepakatan bersejarah, mendorong negara-negara untuk beralih dari bahan bakar fosil. Meskipun kesepakatan ini belum disertai komitmen yang mengikat, hal ini tetap akan mendorong partisipasi aktif untuk beralih ke sistem energi yang berkelanjutan. Fokus dunia sekarang tertuju pada pencapaian nol emisi nol pada tahun 2050, sesuai dengan rekomendasi ilmiah.

Dalam laman resmi APP Sinarmas yang dilansir EGINDO.co menyebutkan dalam berbagai diskusi dari 30 November 2023 hingga 12 Desember 2023, tiga perempuan inspiratif dari APP – Elim Sritaba, Tien Johanna dan Jasmine Doloksaribu – memainkan peran sentral dalam membentuk narasi COP28.

Elim Sritaba, Chief Sustainability Officer di APP, berbagi wawasan berharga dalam panel diskusi berjudul Women’s Empowerment and Gender Equality Strengthen Climate Change Mitigation Actions’ di mana ia menceritakan tentang program Desa Makmur Peduli Api (DMPA), inisiatif pemberdayaan masyarakat yang mencakup 421 desa di sekitar area konsesi APP. “Ini bukan program hibah, melainkan program pemberdayaan dengan pendekatan inklusif yang diharapkan dapat membawa masyarakat ke tingkat berikutnya dalam upaya perlindungan hutan,” katanya.

Baca Juga :  Layanan Dan Penyakit Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan

Elim juga berbagi mengenai tantangan yang dihadapi dalam memberdayakan perempuan, di mana salah satu tugas beratnya adalah untuk membangun kepercayaan diri komunitas perempuan. Dengan berkolaborasi dengan Yayasan Doktor Sjahrir, APP telah membagikan ilmu dan mengorganisir program inkubasi bisnis untuk pengusaha perempuan di Indonesia. Elim berbicara dengan penuh semangat tentang dampaknya, “Kelompok perempuan ini menonjol dengan menunjukkan kinerja yang lebih baik, memiliki komitmen, dan memiliki kapasitas untuk mendukung kesejahteraan mereka.” Pembicara lain dalam diskusi panel ini juga setuju bahwa pemberdayaan perempuan memberdayakan perempuan bukan hanya membawa manfaat sosial tetapi menjadi keharusan untuk menjaga Bumi.

Tien Johanna, Sustainability Division Head di PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia

Sementara itu, Tien Johanna, Sustainability Division Head di PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia, berpartisipasi dalam COP untuk pertama kalinya tahun ini dan mengisi diskusi panel ‘Zero Waste and Zero Emission Goals on Municipal Solid Waste’. Dia menjelaskan bahwa Tjiwi Kimia telah memperluas produksi produk kertas khusus untuk kemasan dengan mendaur ulang kertas bekas. Dalam proses tersebut, terdapat limbah berupa residu dari kertas bekas. Dalam panel, dia mengatakan, “Kami mengembangkan penggunaan Bahan Bakar Terbarukan (RDF) dari sisa kotoran proses daur ulang bahan baku karton,” katanya.

Baca Juga :  Tjiwi Kimia Awalnya Hanya Memproduksi Soda Dan Bahan Kimia

Komitmen Tjiwi Kimia untuk dekarbonisasi sejalan dengan Visi Peta Jalan Keberlanjutan APP (SRV 2030), yang bertujuan mengurangi emisi sebesar 30% pada tahun 2030. Dia merinci langkah-langkah yang diambil, termasuk pemanfaatan energi baru dan terbarukan dari pembangkit listrik tenaga surya dan biomassa. “Kami menargetkan boiler ini beroperasi tahun depan,” tegas Johana, memberikan gambaran sebuah masa depan di mana limbah menjadi sumber daya, bukan beban.

Dalam panel ketiga, Jasmine Doloksaribu, Head of Landscape Conservation and Environment di APP, berbagi wawasannya tentang ‘Innovation in Ecosystem Restoration.’ Jasmine mengungkapkan bahwa APP dan mitranya mengelola area lindung seluas sekitar 600 ribu hektar di lima provinsi. “Pada tahun 2015, tutupan hutan dalam kondisi baik adalah 64%. Pemantauan pada 2023 menunjukkan bahwa area tutupan hutan dalam kondisi baik meningkat menjadi 86%,” kata Jasmine.

Baca Juga :  Mobil, Trotoar Kota Belgia Hanyut Dilanda Banjir Terburuk

Sepanjang presentasinya, Jasmine menekankan bahwa mengembalikan lahan yang rusak ke kondisi awal bukanlah ukuran keberhasilan restorasi, tetapi indikator yang menunjukkan kembalinya fungsi ekologis sebuah hutan. Indikator ini harus dipantau, dan peningkatan keragaman tanaman dan satwa liar, serta penyerapan karbon, adalah keberhasilan yang sebenarnya.

Melalui panel-panel mereka, Elim, Johana, dan Jasmine menunjukkan komitmen APP terhadap kesetaraan gender, pengelolaan limbah, dan restorasi ekosistem sebagai elemen penting dalam perang melawan perubahan iklim. “Sungguh inspiratif melihat semua orang dari berbagai latar belakang bersatu dengan tujuan bersama – melawan perubahan iklim,” kata Elim. Dengan ditutupnya COP28, ide dan gagasan inilah yang harus diwujudkan menjadi aksi nyata untuk  masa depan yang lebih baik.@

App/fd/timEGINDO.co

Bagikan :