New Delhi | EGINDO.co – Temasek, pemegang saham mayoritas Singapore Airlines (SIA), pada hari Sabtu (29 Agustus) menyatakan dukungannya terhadap investasi maskapai tersebut di Air India, di tengah meningkatnya sorotan terhadap kepemilikan sahamnya di maskapai India yang sedang merugi itu.
Permintaan Air India untuk mendapatkan tambahan modal ekuitas sekitar US$1,5 miliar dari pemiliknya, Tata Sons dan SIA, pertama kali dilaporkan oleh Reuters pekan ini. SIA memiliki 25,1 persen saham maskapai terbesar kedua di India tersebut, sementara sisanya dimiliki oleh Tata.
Berita mengenai permintaan pendanaan ini mendorong Kenneth Tiong, seorang anggota parlemen dari partai oposisi Singapura, Workers’ Party, untuk mendesak agar dana Temasek tidak digunakan untuk menopang maskapai India tersebut.
Surat kabar Singapura, Business Times, juga memuat artikel opini yang berpendapat bahwa secara realistis SIA tidak bisa melepas kepemilikan sahamnya di Air India, mengingat Tata adalah satu-satunya pembeli yang mungkin.
Artikel tersebut mempertanyakan apa manfaat dari kepemilikan saham sebesar 25,1 persen itu selain sekadar kursi di dewan direksi dan pembagian kerugian, namun juga mengakui bahwa logika strategis di balik investasi tersebut masih relevan.
Dalam surat tanggapan yang dikirimkan ke surat kabar tersebut, Juliet Teo, pimpinan bersama bidang pengembangan portofolio di Temasek Singapore, menyatakan bahwa Temasek memandang keputusan SIA untuk berinvestasi di Air India dari perspektif jangka panjang dan mendukung langkah tersebut.
Surat itu menyebutkan bahwa transformasi Air India melibatkan tantangan operasional dan integrasi yang kompleks serta berlangsung selama bertahun-tahun, dengan hasil yang dipengaruhi oleh perkembangan industri dan faktor eksternal seperti gangguan wilayah udara, perkembangan geopolitik, dan volatilitas harga bahan bakar.
“Upaya berskala besar seperti ini membutuhkan waktu dan hasilnya tidak selalu berjalan secara linier,” demikian bunyi surat tersebut.
Temasek tidak menyinggung apakah mereka akan mendukung kontribusi modal apa pun dari SIA untuk Air India.
Upaya perombakan Air India yang bernilai miliaran dolar telah berlangsung sejak Tata mengambil alih maskapai yang sebelumnya milik negara tersebut pada tahun 2022.
Air India terdampak oleh larangan wilayah udara Pakistan bagi maskapai India, gangguan akibat konflik yang melibatkan Iran, serta dampak dari kecelakaan tahun lalu yang menewaskan 260 orang.
Pada tahun buku yang berakhir bulan Maret, maskapai tersebut beserta unit penerbangan berbiaya hematnya, Air India Express, mencatatkan kerugian gabungan sebesar US$2,33 miliar, yang turut membebani laba SIA. SIA pada hari Kamis menyatakan bahwa dewan direksinya akan mempertimbangkan secara cermat setiap permintaan tambahan modal dari Air India, dengan memperhitungkan kebutuhan modal lain dari grup tersebut serta strategi bisnis Air India.
Sumber : CNA/SL