Jakarta|EGINDO.co Kenaikan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai menimbulkan efek berantai terhadap sektor industri global, termasuk industri tekstil Indonesia. Lonjakan biaya logistik, tarif kontainer, hingga premi asuransi pengiriman diperkirakan akan menekan kinerja ekspor, khususnya untuk komoditas serat dan benang filamen.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat & Benang Filamen Indonesia, Farhan Aqil Syauqi, mengungkapkan bahwa beban biaya produksi kini semakin berat akibat kenaikan harga bahan baku yang diiringi dengan membengkaknya ongkos distribusi internasional. Menurutnya, kondisi ini secara langsung mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar ekspor.
“Dengan kenaikan biaya kontainer, kapal, dan asuransi, potensi penurunan ekspor menjadi sulit dihindari,” ujarnya pada Rabu (8/4/2026).
Dalam menghadapi tekanan tersebut, pelaku industri mendorong pemerintah untuk segera mengeluarkan kebijakan stimulus. Salah satu langkah yang diusulkan adalah pemberian insentif fiskal berupa pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) maupun relaksasi bea masuk bagi produk manufaktur tertentu. Kebijakan ini dinilai penting untuk menekan biaya produksi sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
Selain itu, asosiasi juga menilai bahwa ketergantungan terhadap pasar ekspor perlu dikurangi sementara waktu. Di tengah ketidakpastian global, pasar domestik dinilai memiliki potensi besar sebagai penopang utama industri tekstil nasional. Dengan jumlah penduduk yang besar dan kebutuhan sandang yang terus meningkat, pasar dalam negeri dapat menjadi bantalan terhadap gejolak eksternal.
Langkah diversifikasi pasar ini diharapkan mampu menjaga keberlangsungan usaha sekaligus mempertahankan tingkat utilisasi industri. Pelaku industri pun didorong untuk meningkatkan inovasi produk serta efisiensi operasional agar tetap kompetitif di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.
Secara keseluruhan, dinamika global saat ini menjadi pengingat bahwa ketahanan industri tidak hanya ditentukan oleh performa ekspor, tetapi juga oleh kekuatan pasar domestik dan dukungan kebijakan yang adaptif dari pemerintah. (Sn)