Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
Tano Batak sedang menghadapi paradoks. Di satu sisi, pengakuan sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark memberi kebanggaan. Di sisi lain, praktik pengelolaan di lapangan menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan: bergesernya geowisata berbasis budaya menjadi mass tourism.
Geowisata pada hakikatnya menempatkan masyarakat lokal sebagai subjek. Masyarakatlah yang menjadi tuan rumah, penutur cerita geologi, penjaga keanekaragaman hayati, dan pewaris kebudayaan yang agung. Wisatawan datang untuk belajar dari masyarakat.
Mass tourism bekerja sebaliknya. Masyarakat lokal menjadi objek, bahkan penonton di tanahnya sendiri. Warisan budaya dipentaskan secara singkat untuk menyambut kedatangan, lalu selesai. Ekonomi tumbuh secara angka, tetapi tidak berakar di huta.
Tiga akibat dari pergeseran ini sudah tampak jelas di kawasan Danau Toba. Pertama, ekonomi yang bocor. Masuknya investasi skala besar tanpa aturan ulayat yang jelas telah mendorong kenaikan harga tanah di lingkar Danau Toba. Rumah makan dan penginapan beton tumbuh lebih cepat daripada pohon beringin di pinggir mata air. Masyarakat yang semula memiliki huta dan lahan, perlahan hanya memiliki kios kecil. Anak-anak huta kesulitan memperoleh tanah di kampungnya sendiri. Pertumbuhan ekonomi terjadi, tetapi tidak dinikmati oleh pemilik kebudayaan.
Kedua, pendangkalan budaya. Dalam geowisata, tortor adalah doa, ulos memiliki aturan pakai, dan rumah bolon memiliki filosofi ruang. Dalam mass tourism, tortor direduksi menjadi tarian penyambutan berdurasi lima menit. Ulos dikenakan tanpa memahami kapan Ragidup atau Sadum seharusnya digunakan. Rumah adat menjadi latar swafoto, tanpa ada yang menjelaskan makna di dalamnya. Kita menjual bungkus kebudayaan, tetapi mengosongkan isinya. Jika ini dibiarkan, kebanggaan menjadi orang Batak akan digantikan oleh rasa asing di tanah sendiri.
Ketiga, kerusakan lingkungan. Beban sampah plastik meningkat di kawasan Danau Toba. Mata air atau mual yang dahulu dijaga sebagai sumber air minum dan ruang sakral, kini mengering karena hutan di hulunya dibuka untuk bangunan. Arsitektur baru yang tidak berakar menutup lanskap Danau Toba yang telah dijaga leluhur. Kita merayakan label geopark, tetapi pada saat yang sama kehilangan kualitas air, hutan, dan lanskap.
Mengapa ini terjadi? Karena tatakelola memisahkan lingkungan dari kebudayaan. Padahal di Tano Batak, keduanya tidak terpisahkan. Leluhur kita telah memiliki sistem pengelolaan yang utuh. Sistem itu adalah patik, uhum, dan ugari. Patik adalah aturan tentang batas ulayat, tentang siapa yang menjaga hutan dan mata air, serta bagaimana air dibagi. Uhum adalah penegakan dan sanksi adat yang disepakati bersama. Ugari adalah kebiasaan hidup, seperti marsidondonan dan martutur, yang membuat aturan itu hidup dalam keseharian.
Ketiga perangkat itu dijaga oleh Dalihan Natolu: Somba Marhula-hula untuk menghormati pengetahuan orang tua, Manat Mardongan Tubu untuk menjaga kehati-hatian dan kebersamaan di antara sesama, dan Elek Marboru untuk mengasihi generasi muda dan perempuan agar merasa memiliki warisan tersebut.
Tanpa menghidupkan kembali patik, uhum, ugari, dan Dalihan Natolu sebagai basis tatakelola, geopark hanya akan menjadi proyek mercusuar. Ia indah dalam brosur, tetapi rapuh di lapangan.
Pelajaran dari berbagai situs warisan dunia menunjukkan pola yang sama. Ketika sebuah kawasan mendapat label dunia, jumlah kunjungan naik tajam. Jika masyarakat lokal tidak dilibatkan sejak awal dalam perencanaan, dampak ekonomi memang meningkat sesaat, tetapi dampak sosial-budaya dan lingkungan menjadi beban jangka panjang. Penduduk asli tersingkir, budaya menjadi tontonan, dan lingkungan rusak.
Tano Batak tidak perlu mengulangi pola itu. Geopark seharusnya menjadi ruang untuk mengembalikan masyarakat lokal sebagai subjek. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya berapa banyak wisatawan yang datang, melainkan apakah warga di huta semakin sejahtera dan semakin bangga menjadi orang Batak. Apakah mual kembali jernih, apakah harangan kembali lebat, apakah ulos kembali dipakai dengan aturan yang benar.
Jika tiga hal itu terjadi, maka geowisata berbasis budaya akan hidup. Jika tidak, kita akan terus mengejar pengakuan dunia, sambil kehilangan jiwa dari Tano Batak itu sendiri. Danau Toba akan tetap indah dipandang, tetapi tondi atau roh dari tanah itu perlahan pergi.@
***
Penulis adalah Pegiat lingkungan basis budaya, bermukim di Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-mula, Samosir