Tari Adat Galombang Dua Baleh, Warisan Budaya Kerajaan Barus

Fadmin Malau
Fadmin Malau

Oleh: Fadmin Malau

Sebelum Indonesia merdeka, sekitar abad ke-7 di kota tua Barus sudah ada Kerajaan Barus Raya yang diperintah seorang raja bernama, Raja Jayadana. Kerajaan ini mengalami puncak kejayaan karena hasil bumi yang melimpah dan komoditi yang harganya sangat mahal pada zaman itu yakni kapur Barus dan pelabuhan kerajaan itu berkelas internasional.

Kerajaan yang besar, kuat dan disegani karena memiliki pasukan yang hebat, memiliki pertahanan yang tangguh dan itu ada pada kerajaan di Barus. Kekuatan pasukan kerajaan dalam mempertahankan daerahnya, mempertahankan harkat dan martabat dari kerajaan terus melekat menjadi satu budaya yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Barus pada waktu itu dan menjadi adat budaya.

Bukti kebesaran kerajaan Barus Raya adalah memiliki wilayah kekuasaan sangat luas yang diperintah Raja Tuangku Pangsiun yang berkuasa di daerah Kampung Mudik Barus, sebuah kerajaan di tepi Aek (sungai) Sirahar.

Sistem pertahanan kerajaan, tata kerajaan, kehidupan rakyat waktu itu melahirkan satu kebiasaan yang menjadi adat, budaya dalam kehidupan sehari-hari. Kehebatan sistem kerajaan Barus melahirkan satu budaya yang sampai hari ini ada yakni adat dalam Tari Galombang Dua Baleh yang bersumber dari adat istiadat pada masa Kerajaan Barus Raya di Kampung Mudik Barus yang dipimpin Tuangku Pangsiun. Namun, kerajaan Barus Raya berserta kuburan Raja Tuangku Pangsiun pada tahun 1953 hanyut ketika banjir besar Aek (sungai) Sirahar.

Berdasarkan catatan sejarah raja pertama yang memerintah di daerah Kampung Mudik Barus bernama Tuangku Haji, setelah itu digantikan dengan raja Tuangku Pangsiun bermarga Pohan Siahaan yang turun dari dolok (gunung) kampung Baringin.

Tari adat Galombang Dua Baleh merupakan tradisi kerajaan dalam setiap menyambut tamu raja yang datang ke kerajaan di Kampung Barus Mudik. Kesenian ini identik dengan upacara kerajaan dalam penyambutan tamu-tamu kerajaan. Bukan itu saja ketika perkawinan putra-putri raja upacara kerajaan ini juga berlaku yang dikenal dengan upacara pencak silat Galombang Dua Baleh.

Ketika upacara kerajaan, para pendekar atau Panglima ulung Kerajaan menunjukkan kebolehannya bertarung di gelanggang dalam menghadapi para pendekar sakti dari tamu kerajaan yang datang ke kerajaan Kampung Mudik Barus.

Baca Juga :  Penurunan Inflasi Global Mengangkat Suramnya Imbal Hasil Obligasi

Para pendekar ulung itu bertarung dengan aturan, ada tatacara atau adat yang mengaturnya, tidak boleh dilanggar oleh para pendekar. Aturan itu jelas dan tegas yakni jumlah pendekar sebanyak dua belas orang dari pihak kerajaan Kampung Barus Mudik dan sebanyak dua belas orang pula dari pihak tamu kerajaan lain yang berkunjung ke kerajaan Kampung Mudik Barus.

Dua belas orang para pendekar tangguh dari pihak kerajaan Kampung Mudik Barus dan dua belas orang pendekar dari pihak kerajaan tamu. Dalam bertarung para pendekar ini dipandu oleh seorang juri atau wasit yang disebut dengan Sirih Pararei yang berada di tengah gelanggang pertarungan.

Biasanya yang bertindak sebagai Sirih Pararei ini adalah seorang yang arif, bijaksana, adil, jujur dan tangguh. Seorang Sirih Pararei ini adalah pendekar yang benar-benar tangguh ilmu bela dirinya, sakti mandraguna, tidak sembarang pendekar mampu menjadi Sirih Pararei karena harus menjadi juri yang adil dan bijaksana.

Para panglima atau pendekar yang datang ke kerajaan Kampung Mudik Barus akan dihadang para pendekar dari kerajaan Kampung Mudik Barus. Wajib hukumnya mempertahankan diri, tidak sembarang orang bisa datang ke kerajaan Kampung Mudik Barus kala itu.

Sebelum masuk ke kerajaan Kampung Mudik Barus harus terlebih dahulu mampu menaklukkan para pendekar sakti dari kerajaan Kampung Mudik Barus. Akibat dari para pendekar tangguh itu pertarungan bisa terjadi berhari-hari. Artinya, jika hari ini para pendekar dari pihak tamu yang datang ke kerajaan Kampung Mudik Barus belum mampu mengalahkan para pendekar dari kerajaan Kampung Mudik Barus maka pihak pendekar tamu akan mundur tetapi bukan pula menyerah.

Biasanya keesok harinya datang lagi untuk bertarung, berusaha para pendekar sakti dari kerajaan tamu untuk menaklukkan pertahanan kerajaan Kampung Mudik Barus. Bila hari kedua tidak juga dapat ditaklukkan maka hari berikutnya dicoba lagi dan terjadi lagi pertarungan.

Baca Juga :  Kemerdekaan Indonesia Dan Bendera Merah Putih

Pengetua-pengetua adat dari kedua kerajaan selalu berjaga-jaga, mengawasi pertarungan yang sedang berlangsung. Para pengetua adat terus menilai pertarungan yang berlangsung dari para pendekar jangan sampai ada yang bertarung curang, harus mengkedepankan kejujuran.

Pertarungan dua belas orang pendekar dari kerajaan Kampung Mudik Barus bertarung dengan dua belas orang pendekar dari pihak kerajaan yang datang ke kerajaan Kampung Mudik Barus untuk menyunting sang putri raja harus bertarung nyawa terlebih dahulu. Bila dapat menaklukkan dua belas pendekar sakti dari kerajaan Kampung Mudik Barus maka baru dapat mempersunting putri raja.

Peristiwa dari tradisi kerajaan Kampung Mudik Barus itu diwariskan sampai hari ini sebagai satu kesenian kebudayaan dari Tapanuli Tengah yang berlaku untuk upacara perkawinan putra-putri raja.

Dalam masyarakat Tapanuli Tengah melekat pepatah yang menilai adat dan budaya harus terus ada sepanjang zaman. Namun, faktanya hari ini adat dan budaya warisan pada zaman kerajaan Kampung Barus Mudik itu sudah sangat langka terlihat. Tarian adat Galombang Dua Baleh dalam adat perkawinan masyarakat Tapanuli Tengah sudah langka meskipun belum punah.

Sebenarnya Tari Galombang Dua Baleh hasil adopsi dari pertarungan para pendekar yang sesungguhnya pada masa kerajaan Barus. Kini dilakukan secara simbolis sebagai pembayar adat pada upacara adat perkawinan. Tari Galombang Dua Baleh bila melihat aslinya luar biasa. Para pendekar harus bertarung, berjuang untuk mempertahankan harkat dan martabat sukunya.

Kini hanya sebuah Tarian adat Galombang Dua Baleh. Para pendekar telah diatur mainnya dan telah diubah ke dalam bentuk tarian sehingga setiap orang dapat membawakannya. Dalam tarian Galombang Dua Baleh tergambar jurus-jurus maut yang dahulu dimainkan para pendekar sakti dari kedua kerajaan dalam mempertahankan “medan”-nya dan menerobos pertahanan lawan.

Tari adat Galombang Dua Baleh memiliki gerakan pencak silat para pendekar untuk menaklukkan lawannya, tidak kalah hebatnya dengan gerakan silat para pendekar ketika zaman raja dahulu. Bedanya, kini sudah diatur sehingga gerakan pencak silat yang aslinya sudah disutradarai, tidak ubahnya seperti shoting film laga untuk layar lebar dan layar kaca.

Baca Juga :  Selamat Tahun Baru Imlek 2574, Tahun 2023 Tahun Kelinci Air

Pada akhir pertarungan ada pihak yang disutradarai sebagai pihak yang kalah dan ada pihak yang menang. Disamping itu ada yang berperan (bertindak) selaku juri (Sirih Pararei) dalam pertarungan itu. Semuanya sudah ada skenerionya, ada sutradaranya. Sebuah pertunjukan yang menarik dari upacara adat perkawinan Galombang Dua Baleh.

Menarik karena adat perkawinan tari Galombang Dua Baleh digali dari gerakan pencak silat para pendekar ulung dahulu. Kini sudah menjadi sebuah tarian dan itu juga sudah langka terlihat meskipun ada adat pesta perkawinan pada masyarakat Tapanuli Tengah.

Mengapa bisa langka terlihat? Pertama penyebabnya karena semakin sedikit yang menguasai dan memahami tari Galombang Dua Baleh.

Kedua karena para penari tari Galombang Dua Baleh harus para atlit pencak silat. Penyebab ketiga karena biaya untuk satu groub tari Galombang Dua Baleh cukup mahal dan keempat penyebabnya karena para atlit bela diri pencak silat semakin langka akibat pembina groub tari Galombang Dua Baleh hampir tidak ada.

Tahun tahun 1980-an di kecamatan Medan Timur ada sanggar Pemahsuri Barus membina para atlit bela diri pencak silat dan sekaligus dari sanggar Pemahsuri Barus itu ada groub tari Galombang Dua Baleh dengan pelatih (alm) Zabir Tanjung. Namun, kini sudah tidak ada lagi. Groub tari Galombang Dua Baleh itu dahulu sempat mengisi upacara adat perkawinan masyarakat Tapanuli Tengah di kota Medan dan juga pernah menyambut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI ketika Dies Natalis ke-27 Universitas Sumatera Utara (USU) Medan di Audotorium kampus USU Medan pada 29 Agustus 1984.

Kini semuanya itu tinggal Kenangan, sebab para atlit bela diri pencak silat yang waktu itu menjadi penari tari Galombang Dua Baleh sudah pada bubar, tidak menjadi atlit bela diri pencak silat. Pada hal tari Galombang Dua Baleh merupakan sejarah, adat dan kebudayaan masyarakat Tapanuli Tengah.

***

Bagikan :
Scroll to Top