Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
Bagi orang Batak, tao bukan sekadar hamparan air. Tao adalah bagian dari ruang kehidupan. Karena itu, ketika leluhur menyebut Tao Toba, Raja ni Sudena Tao, ungkapan itu bukan sekadar penghormatan kepada sebuah danau, melainkan pengakuan atas kedudukannya sebagai sumber kehidupan yang menghidupi ruang di sekelilingnya.
Kalau induk kehidupan sakit, anak-anaknya ikut merasakan. Mata air mengering, hutan berkurang, ikan menurun, tanah kehilangan daya dukung, dan kampung-kampung perlahan kehilangan ngolu—kehidupan.
Hari ini kita banyak berbicara tentang bagaimana Tao Toba dikembangkan sebagai kawasan pariwisata. Itu penting. Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana kita hidup bersama Tao Toba?
Sebab sebelum menjadi destinasi, Tao Toba adalah ruang kehidupan. Pertanyaan itu membawa saya kembali kepada akar budaya Batak. Kita tidak harus selalu mencari jawaban dari luar. Sebagian jawabannya telah lama hidup dalam cara kita menata hubungan antarmanusia melalui Dalihan Na Tolu: manat mardongan tubu, elek marboru, somba marhula-hula.
Ketiganya memang berbicara tentang hubungan kekerabatan. Namun di dalamnya terdapat sikap hidup yang lebih luas: manusia harus berhati-hati dalam bertindak, mengasihi dalam memperlakukan, dan menghormati sesuatu yang lebih tinggi daripada kepentingan dirinya sendiri.
Manat mardongan tubu mengajarkan agar kita menjaga yang dekat. Dalam konteks lingkungan, pemulihan Tao Toba dapat dimulai dari diri sendiri dan kampung sendiri. Jangan membuang limbah ke tanah dan sungai tanpa memikirkan ke mana akhirnya mengalir. Jangan menebang hutan tanpa memikirkan mata air. Jangan mengambil dari alam seolah-olah tidak ada hari esok.
Sebelum menyalahkan pihak lain, ada baiknya kita bertanya: apa yang sudah saya lakukan terhadap tanah, air, hutan, dan tao yang menopang kehidupan saya?. Elek marboru mengajarkan kelembutan dan kasih dalam hubungan. Dalam kehidupan ekonomi, prinsip ini mengingatkan bahwa mengusahakan alam tidak sama dengan menghabiskannya.
Kita boleh bertani, menangkap ikan, membangun usaha, mengembangkan pariwisata, dan mencari penghidupan. Namun semuanya harus dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan alam untuk tetap memberi kehidupan.
Keramba, pertanian, permukiman, dan kegiatan ekonomi di sekitar Tao Toba perlu ditata bukan dengan kebencian, melainkan dengan tanggung jawab. Hutan di kawasan tangkapan air harus dipulihkan. Mata air harus dijaga. Sungai yang mengalir menuju tao harus diperlakukan sebagai urat kehidupan, bukan tempat membuang sisa aktivitas manusia.
Sebab ekonomi yang menghabiskan sumber kehidupan pada akhirnya akan menghabiskan dirinya sendiri. Somba marhula-hula mengajarkan hormat kepada yang lebih tinggi dalam tatanan kekerabatan. Sikap ini juga mengingatkan manusia bahwa dirinya bukan pemilik mutlak kehidupan.
Kita menerima air, tetapi tidak menciptakan air. Kita menerima tanah, tetapi tidak menciptakan kesuburannya. Kita menikmati Tao Toba, tetapi tidak menciptakan Tao Toba. Karena itu, manusia semestinya belajar rendah hati: yang kita terima dari kehidupan harus kita gunakan dengan bijaksana dan kita tinggalkan dalam keadaan yang layak bagi generasi berikutnya.
Dalam adat Batak, kehidupan bersama juga mengenal uhum dohot ugari. Ada ungkapan: Adat do ugari//sinihathon ni Mulajadi//siradotan manipat ari//siulaon di siulubalang ari.
Adat bukan hanya sesuatu yang diucapkan dalam upacara. Ia harus menjadi sesuatu yang dikerjakan setiap hari. Karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar program pemerintah atau slogan pembangunan. Ia harus masuk ke dalam perilaku.
Saya teringat Rumah Bolon di Sianjur Mula-Mula. Rumah itu dapat kita baca sebagai jejak pengetahuan leluhur dalam membangun kehidupan: memanfaatkan apa yang tersedia di lingkungan dengan pengetahuan, keteraturan, dan kecukupan.
Dari sana ada pelajaran sederhana: kehidupan tidak dibangun dengan mengambil sebanyak-banyaknya, melainkan dengan mengetahui apa yang cukup dan bagaimana menjaganya. Tao Toba pun demikian.
Ia tidak mungkin diselamatkan oleh satu orang, satu marga, satu perusahaan, atau satu pemerintah. Tetapi perubahan selalu mempunyai pintu masuk yang sangat pribadi: perilaku kita sendiri.
Saya tidak menulis ini untuk menggurui. Saya pun masih belajar. Tao Toba telah lebih dahulu menjadi guru. Ia berbicara melalui mata air yang mengalir, hutan yang tumbuh, ikan yang berenang, tanah yang subur, dan juga melalui tanda-tanda ketika semuanya mulai kehilangan daya hidup.
Pertanyaannya sederhana: apakah kita masih cukup rendah hati untuk mendengarnya? Jangan hanya mengukur kemajuan Tao Toba dari banyaknya wisatawan, hotel, restoran, atau investasi. Ukurlah juga dari mata air yang tetap mengalir, hutan yang kembali tumbuh, sungai yang tetap bersih, ikan yang tetap hidup, dan anak-anak yang kelak masih dapat memandang tao dengan rasa syukur.
Sebab Tao Toba bukan hanya warisan masa lalu. Ia adalah amanah bagi masa depan. Kalau kita merawat kehidupannya, kita sedang merawat kehidupan kita sendiri. Kalau kita memulihkan alamnya, kita sedang memulihkan cara hidup kita.
Dari Dolok Pusuk Buhit, dari Sianjur Mula-Mula, saya belajar bahwa merawat Tao Toba pada akhirnya bukan hanya soal menyelamatkan sebuah danau. Kita sedang belajar menyelamatkan cara manusia hidup. Satu Tao. Satu Kehidupan. Satu Tanggung Jawab. Horas.@
***
Penulis adalah Pegiat Lingkungan Basis Budaya dari Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-Mula