Jakarta|EGINDO.co Agenda hilirisasi pertambangan di Indonesia kini telah memasuki fase baru. Setelah sukses membangun smelter untuk komoditas strategis seperti nikel, tembaga, dan emas, tantangan terbesar industri nasional saat ini bergeser pada rendahnya tingkat penyerapan produk olahan di dalam negeri.
Ketua Umum Indonesia Mining Association (IMA), Rachmat Makkasau, mengungkapkan bahwa kapasitas pengolahan mineral Indonesia telah berkembang pesat. Produksi katoda tembaga nasional diproyeksikan mampu mencapai 1 juta hingga 1,1 juta ton pada 2027, bahkan berpotensi naik hingga 1,3 juta ton. Sementara itu, produksi emas nasional diproyeksikan menyentuh angka 130 hingga 140 ton per tahun.
Kendati kapasitas produksi melimpah, tingkat penyerapan domestik masih tertinggal jauh. Sebagai contoh, serapan tembaga di dalam negeri baru berada di kisaran 20% hingga 25%, sementara sebagian besar produk nikel dan stainless steel masih harus berorientasi ekspor.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan fasilitas pengolahan saja belum cukup untuk memaksimalkan nilai tambah ekonomi nasional. Rachmat menegaskan, agenda hilirisasi selanjutnya harus fokus pada pembangunan industri lanjutan atau pengguna (downstream industries) agar produk smelter dapat diserap secara optimal oleh pasar lokal.
Di sisi lain, tembaga dinilai memiliki potensi besar untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di kancah global. Kontribusi Indonesia terhadap produksi tembaga dunia diprediksi melonjak dari saat ini yang baru mencapai 3% hingga 5%, menjadi sekitar 10% dalam satu dekade mendatang.
Guna memaksimalkan peluang tersebut, pemerintah bersama pelaku industri didorong untuk melengkapi ekosistem hilirisasi—tidak hanya berfokus pada sektor hulu dan smelter, tetapi juga memastikan ketersediaan industri hilir yang menyerap hasil produksinya di dalam negeri. (Sn)