Medan | EGINDO.com – PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe, meraih Apresiasi Minerba 2026 Bidang Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Penghargaan tersebut diberikan atas keberhasilan program Martabe Chicken Farm (MCF), model agribisnis terintegrasi yang menghubungkan petani jagung dengan peternakan ayam petelur di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) Sumatera Utara.
Penghargaan diserahkan pada penutupan Minerba Convex 2026 di Jakarta, Selasa (3/11/2026) dimana PTAR menjadi satu dari 15 badan usaha pertambangan mineral yang menerima apresiasi tersebut setelah melalui tahapan seleksi administrasi, wawancara, hingga verifikasi lapangan.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, menegaskan bahwa keberhasilan sektor pertambangan tidak semata-mata diukur dari besarnya produksi, volume, maupun penerimaan negara. Lebih dari itu, sektor pertambangan harus mampu memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Menurutnya, program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) harus ditempatkan sebagai investasi sosial jangka panjang, bukan sekadar kewajiban perusahaan atau bantuan sesaat.
Director External Relations PT Agincourt Resources, Sanny Tjan, mengatakan, penghargaan tersebut bukan semata-mata milik perusahaan, melainkan juga bentuk pengakuan terhadap kerja keras petani, peternak, dan masyarakat Tapanuli Selatan yang terlibat dalam program MCF.
Martabe Chicken Farm dirancang sebagai model bisnis yang memanfaatkan potensi dan kebutuhan lokal. Program ini sekaligus menjawab persoalan yang selama ini dihadapi petani jagung, terutama ketergantungan terhadap tengkulak dan ketidakpastian harga jual hasil panen.
Manager Community Development PT Agincourt Resources, Rohani Simbolon, menjelaskan MCF merupakan percontohan usaha peternakan terpadu yang menghubungkan sektor pertanian, peternakan, dan pengolahan limbah dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Melalui skema contract farming, petani jagung memasok bahan baku pakan secara langsung ke peternakan ayam petelur tanpa melalui perantara. Dengan demikian, petani memperoleh kepastian pasar, sementara peternakan mendapatkan pasokan bahan baku pakan dari produksi lokal.
Dampak program mulai terlihat dari capaian produksi dan pendapatan masyarakat. Sepanjang Januari hingga September 2026, delapan petani mencatatkan produksi jagung sebanyak 13.845 kilogram, dengan peningkatan pendapatan sebesar 31 persen menjadi Rp90,43 juta. Pada periode yang sama, peternakan MCF menghasilkan 188.366 butir telur dengan total pendapatan penjualan mencapai Rp327,41 juta.
Manfaat kepastian pasar juga dirasakan langsung oleh petani. Suryadi, anggota Kelompok Tani Mulia Bakti, Dusun IV Aek Sirara, Desa Sumuran, mengaku kini memiliki kepastian dalam memasarkan hasil panennya.
Selain meningkatkan aktivitas ekonomi, MCF juga melibatkan berbagai unsur masyarakat dalam pengelolaannya. Tercatat sebanyak 42 orang terlibat dalam ekosistem program tersebut, mulai dari petani jagung, pengelola peternakan, siswa SMK pertanian, tim pemasaran Bagas Silua, perwakilan Dinas Pertanian dan Balai Penyuluh Pertanian, hingga petani milenial.
Program juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah peternakan. Kotoran ayam diolah menjadi pupuk organik yang kemudian digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian. Selama Januari hingga Juni 2026, sekitar 29,3 ton kotoran ayam telah dimanfaatkan untuk memupuk lahan pertanian seluas 17,5 hektare, dengan estimasi nilai ekonomi mencapai Rp16,3 juta. Kedepan, PT Agincourt Resources menargetkan peningkatan jumlah petani yang terlibat menjadi 56 orang dalam lima tahun mendatang.@
Rel/fd/timEGINDO.com