Jakarta|EGINDO.co Hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan mayoritas masyarakat menilai kondisi ekonomi nasional belum berada dalam situasi yang menggembirakan. Hanya 15,7 persen responden yang menyatakan kondisi ekonomi Indonesia saat ini baik atau sangat baik, sedangkan 49,4 persen menilai buruk atau sangat buruk.
Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani mengatakan temuan tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi secara makro dengan kondisi yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Bisa dikatakan persepsi publik ini mengonfirmasi perkiraan sejumlah ekonom bahwa pertumbuhan ekonomi bukan angka yang salah, tetapi itu tidak mencerminkan pertumbuhan ekonomi di tingkat individual masyarakat,” ujar Deni, dikutip dari kanal YouTube SMRC TV, Senin (27/7/2026).
Data survei juga menunjukkan penilaian negatif terhadap kondisi ekonomi meningkat tajam dalam sembilan bulan terakhir. Pada November 2025, hanya 22,7 persen responden yang menilai kondisi ekonomi buruk atau sangat buruk. Angka tersebut naik menjadi 31,7 persen pada survei Februari–Maret 2026, lalu melonjak menjadi 49,4 persen pada Juli 2026. Di sisi lain, penilaian positif turun dari 40 persen pada November 2025 menjadi 26,3 persen pada Februari–Maret 2026, hingga tersisa 15,7 persen pada Juli 2026.
Survei SMRC dilaksanakan pada 5–19 Juli 2026 dengan melibatkan 749 responden yang memiliki hak pilih. Sebanyak 83,8 persen responden diwawancarai melalui telepon, sementara 16,2 persen lainnya melalui tatap muka. Survei ini memiliki margin of error sekitar 3,7 persen.
Temuan SMRC tersebut sejalan dengan sejumlah indikator ekonomi lainnya. Survei Konsumen Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026 turun menjadi 117,8 dari 120,9 pada bulan sebelumnya. Meski masih berada di zona optimistis (di atas 100), penurunan indeks mengindikasikan melemahnya keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dibandingkan bulan sebelumnya.
Sejumlah lembaga riset dan pelaku pasar juga sebelumnya telah mengingatkan bahwa perlambatan permintaan domestik dan melemahnya daya beli menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026. (Sn)