Jakarta|EGINDO.co Kinerja perdagangan Indonesia kembali menunjukkan ketahanan pada awal 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan pada Februari 2026 mencatatkan surplus sebesar US$1,27 miliar, meningkat dibandingkan capaian Januari yang sebesar US$0,95 miliar. Dengan hasil ini, Indonesia telah membukukan surplus selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Dari sisi kinerja ekspor, nilainya mencapai US$22,17 miliar atau tumbuh 1,01% secara tahunan (YoY). Kenaikan ini terutama didorong oleh sektor nonmigas, khususnya komoditas unggulan seperti minyak nabati, produk nikel, serta mesin dan perlengkapan elektrik. Tren ini mencerminkan masih kuatnya permintaan global terhadap komoditas berbasis sumber daya alam dan produk manufaktur tertentu.
Di sisi lain, impor Indonesia tercatat US$20,89 miliar, meningkat cukup tinggi yakni 10,85% YoY. Lonjakan impor terutama berasal dari sektor nonmigas yang tumbuh 18,24%, mengindikasikan meningkatnya kebutuhan bahan baku dan barang modal untuk mendukung aktivitas produksi dalam negeri.
Secara struktur, surplus perdagangan Februari ditopang oleh surplus nonmigas sebesar US$2,19 miliar, dengan kontributor utama berasal dari komoditas minyak nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sementara itu, sektor migas masih mencatatkan defisit sehingga menahan besaran surplus secara keseluruhan.
Sejumlah analis sebelumnya memperkirakan surplus neraca dagang akan tetap berlanjut, meski dengan kecenderungan menyempit akibat pertumbuhan impor yang lebih agresif dibandingkan ekspor. Namun realisasi Februari justru melampaui sebagian proyeksi pasar.
Mengutip laporan Bisnis Indonesia, peningkatan impor dinilai sebagai sinyal positif bagi aktivitas ekonomi domestik, terutama menjelang peningkatan produksi dan konsumsi. Senada, CNBC Indonesia menilai keberlanjutan surplus ini menunjukkan daya tahan eksternal Indonesia masih terjaga di tengah dinamika global.
Secara keseluruhan, meskipun tekanan dari sisi impor meningkat, neraca perdagangan Indonesia tetap solid. Surplus yang berlanjut ini menjadi penopang penting stabilitas eksternal, sekaligus mencerminkan keseimbangan antara kinerja ekspor dan kebutuhan domestik yang terus berkembang. (Sn)