Suku Sumbawa, Tradisi Pengobatan Ramuan Minyak Bulan Muharram

Suku Sumbawa

Sumbawa | EGINDO.co – Di Pulau Sumbawa yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia, ada sebuah suku yang mendiami pulau tersebut yaitu suku Sumbawa. Mereka mendiami bagian barat dan tengah Pulau Sumbawa meliputi Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat.

Mereka biasa menyebut diri mereka dengan sebutan Tau Samawa.  Tau Samawa berasal dari kata Tau yang berarti orang, Samawa berasal dari kata sammava (bahasa sanksekerta) artinya dari berbagai penjuru.

Diceritakan pada masa lalu, Suku Sumbawa pernah membangun kerajaan yang kemudian menjadi Kesultanan Sumbawa sampai tahun 1959 namun pada akhirnya dibubarkan oleh pemerintah pusat. Setelah itu dibentuklah Pemerintah Daerah tingkat II Kabupaten Sumbawa pada tanggal 22 Januari 1959.

 

Bahasa Sumbawa

Suku Sumbawa masih menggunakan bahasa Sumbawa sebagai bahasa sehari-hari mereka. Bahasa Sumbawa atau Basa Samawa adalah bahasa yang dituturkan di bekas wilayah Kesultanan Sumbawa yaitu wilayah Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat.

Dari segi linguistik, bahasa Sumbawa serumpun dengan bahasa Sasak. Kedua bahasa tersebut merupakan kelompok dalam rumpun bahasa Bali-Sasak-Sumbawa, yang pada gilirannya termasuk dalam satu kelompok “Utara dan Timur” dalam kelompok Melayu-Sumbawa.

 

Rumah Adat Suku Sumbawa

Rumah Adat Dalam Loka adalah kediaman raja-raja yang berasal dari Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Rumah dalam Loka atau istana Sumbawa ini merupakan peninggalan sejarah dari kerajaan Sumbawa. Istana Dalam Loka dibangun pada tahun 1885 oleh Sultan Muhammad Jalalludin III (1983-1931).

Rumah adat Dalam Loka merupakan desain asli rumah kediaman raja-raja Sumbawa. Kuatnya pengaruh budaya Islam yang masuk di wilayah ini pada masa itu telah membuat hampir seluruh aspek adat dan kesukuan masyarakat Sumbawa larut dalam nilai-nilai syariah Islam.

Rumah Adat Dalam Loka berbentuk rumah panggung dengan luas bangunan 904 M2. Istana Dalam Loka terlihat sangat megah. Istana yang dibangun dengan bahan kayu ini memiliki filosofi “adat berenti ko syara, syara barenti ko kitabullah”, yang berarti semua aturan adat istiadat maupun nilai-nilai dalam sendi kehidupan tau Samawa (masyarakat Sumbawa) harus bersemangatkan pada syariat Islam.

 

Tradisi Malala Sumbawa

Suku Sumbawa memiliki tradisi yang cukup unik yang biasa disebut dengan Malala. Malala adalah tradisi membuat minyak obat dari ramuan alami yang dididihkan. Tradisi tersebut biasa dilakukan pada bulan Muharam di tahun Hijriah (Kalender Islam).

Tradisi Malala hanya bisa dilakukan oleh seorang tabib atau dukun yang disebut Sandro. Sandro melakukan Malala dengan cara mengaduk ramuan minyak menggunakan tangan dalam keadaan mendidih dan saat api sedang membara.

Berbagai bahan alami digunakan seperti akar-akar kayu yang ada di dalam hutan, madu, sarang burung dan lain-lain. Terkadang seorang sandro merahasiakan bahan-bahan yang digunakannya.

Santan kelapa menjadi bahan dasarnya yang akan menghasilkan minyak. Minyak baru bisa matang setelah sipanaskan dalam tungku berbahan bakar kayu sekitar 4 hingga 5 jam. Masyarakat Sumbawa juga percaya jika minyak tersebut dapat meningkatkan vitalitas pria, menambah kesegaran tubuh serta mengobati berbagai penyakit. Misalnya pegal linu, obat luka dan masih banyak lagi khasiat lainnya. Cara pemakaiannya pun berbeda-beda, bisa diminum ataupun digunakan sebagai minyak urut.

(AR/dari berbagai sumber)