Jakarta | EGINDO.com – PT Pos Indonesia membeberkan rencana besar transformasi digital perusahaan yang bertumpu pada dua pilar utama: kecerdasan buatan- robotic dan konsolidasi bisnis logistik nasional. Dalam paparannya, Prasabri Pesti, Direktur Business Development & Portfolio Management PT Pos Indonesia.Prasabri menegaskan, pemanfaatan AI bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan bagian dari strategi menyeluruh untuk mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Katanya transformasi digital berbasis AI adalah keniscayaan bagi Pos Indonesia untuk tetap relevan dan kompetitif di tengah perubahan industri logistik yang begitu cepat. Di sisi konsolidasi, Pos Indonesia menekankan bahwa industri logistik adalah bisnis yang sangat mengutamakan volume dan skala. “Logistik adalah bisnis yang sangat mengutamakan volume dan skala. Ketika konsolidasi terjadi, skala otomatis meningkat dan skala yang besar berdampak langsung pada efisiensi operasional,” terang Prasabri.
Skala bisnis yang besar juga menjadi modal penting untuk bermitra dengan pemain logistik kelas dunia sekaligus membuka akses ke pasar internasional. “Skala yang besar adalah modal kita untuk duduk setara dengan pemain global, menjalin kemitraan strategis, dan pada akhirnya membuka akses masuk ke pasar internasional,” tambahnya.
Dipaparkannya melalui sinergi antara transformasi berbasis AI dan penguatan skala melalui konsolidasi, Pos Indonesia optimistis dapat bertransformasi dari perusahaan logistik domestik menjadi pemain logistik kelas dunia yang diperhitungkan di pasar internasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, hingga 2024 terdapat sekitar 16.080 perusahaan pergudangan dan ekspedisi kurir di Indonesia. Pertumbuhan industri ini menuntut sistem operasional yang lebih terintegrasi dan berbasis data.
Sebelumnya, PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) menggelar Indonesia AI Day for Supply Chain. Forum ini mempertemukan pelaku industri transportasi, distribusi, dan logistik untuk mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam meningkatkan efisiensi biaya dan operasional.
Direktur dan Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Buldansyah mengatakan, kompleksitas rantai pasok saat ini tidak lagi bisa mengandalkan proses manual. Pelaku industri membutuhkan visibilitas real-time agar keputusan operasional lebih cepat dan terukur. “Pelaku industri perlu melihat pergerakan barang dan armada secara real-time agar operasional berjalan lebih rapi dan keputusan dapat diambil tepat waktu. Indosat mendorong pemanfaatan teknologi berbasis AI agar proses di bidang ini saling terhubung,” kata Buldansyah dalam keterangan resmi yang dilansir EGINDO.com pada Sabtu (14/2/2026).@
Bs/timEGINDO.com