Sokrates Tidak Diadili Hari Ini; Ia Hanya Diabaikan

Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl.Ec., Dipl.Plan., M.Si
Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl.Ec., Dipl.Plan., M.Si

Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang

Dua ribu empat ratus tahun lalu, Sokrates diadili di Athena. Tuduhannya sederhana tapi serius pada zamannya: ia dianggap merusak tatanan karena terlalu sering bertanya. Ia tidak memberi ceramah panjang. Ia tidak memimpin pemberontakan. Ia hanya melakukan satu hal yang konsisten: mengajukan pertanyaan yang membuat orang berhenti merasa terlalu yakin.

“Apa itu keadilan?”

“Apa yang membuat sesuatu benar?”

“Apakah kita sungguh memahami apa yang kita lakukan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu disambut dengan tenang. Dalam sejarahnya, Sokrates akhirnya dihukum mati. Bukan karena ia memiliki jawaban yang salah, tetapi karena ia terus membuka kemungkinan bahwa jawaban yang dianggap benar mungkin belum benar-benar diuji.

Jika ia hidup hari ini, bentuk “pengadilannya” mungkin sudah berbeda. Kita tidak lagi membawa orang ke pengadilan karena bertanya terlalu banyak. Kita hanya melakukan sesuatu yang lebih halus: mengabaikannya.

Bayangkan sebuah ruang percakapan modern—sebuah grup WhatsApp keluarga besar, marga, organisasi, atau komunitas. Grup itu berjalan seperti biasa: pengumuman, dokumentasi acara, ucapan selamat, dan sesekali percakapan ringan.

Lalu muncul satu pesan: “Maaf, saya ingin bertanya. Apakah laporan penggunaan dana sosial bisa dibuka lebih rinci agar anggota bisa memahami alurnya?”

Pesan itu tidak menyerang siapa pun. Tidak menuduh. Tidak memprovokasi. Ia hanya meminta kejelasan. Namun sering kali, respons yang muncul bukanlah jawaban. Melainkan keheningan. Atau perubahan topik yang cepat. Atau stiker yang menandakan “sudah lewat saja.”

Di titik ini, Sokrates tidak lagi diadili. Ia diabaikan. Dan pengabaian itu, dalam banyak komunitas, jauh lebih efektif daripada hukuman. Karena ia tidak menimbulkan konflik terbuka, tetapi perlahan membentuk kebiasaan: bahwa ada pertanyaan yang tidak perlu dijawab.

Sokrates pernah mengatakan bahwa hidup yang tidak diperiksa adalah hidup yang tidak layak dijalani. The unexamined life is not worth living. Namun dalam konteks komunitas, kita bisa memperluas maknanya: komunitas yang tidak diperiksa adalah komunitas yang berjalan tanpa kesadaran penuh atas dirinya sendiri.

Banyak komunitas tidak kekurangan niat baik. Mereka dibangun atas dasar kekeluargaan, solidaritas, dan keinginan untuk saling membantu. Tetapi niat baik saja tidak cukup jika tidak disertai mekanisme untuk memastikan bahwa apa yang dilakukan benar-benar dipahami dan dapat dipertanggungjawabkan.

Di sinilah pertanyaan menjadi penting. Namun di banyak tempat, kita secara perlahan belajar bahwa bertanya adalah tindakan yang berisiko. Ia bisa dianggap tidak sopan. Bisa dibaca sebagai ketidakpercayaan. Bahkan bisa dianggap mengganggu “harmoni”.

Padahal harmoni yang sehat tidak berarti tidak adanya perbedaan suara. Harmoni adalah kemampuan untuk tetap berada dalam percakapan yang sama, meskipun tidak semua orang langsung sepakat. Komunitas yang dewasa bukan komunitas yang bebas dari pertanyaan. Tetapi komunitas yang mampu menjawab pertanyaan tanpa merasa terancam olehnya.

Di era digital, kita memiliki ruang komunikasi yang jauh lebih cepat dan luas dibanding generasi sebelumnya. Informasi bisa dibagikan dalam hitungan detik. Keputusan bisa diumumkan tanpa batas jarak. Tetapi kecepatan tidak otomatis melahirkan kedalaman. Dan keterhubungan tidak selalu berarti keterbukaan.

Teknologi mempercepat percakapan, tetapi tidak selalu memperbaiki kualitasnya. Jika budaya dialog kita dangkal, teknologi hanya akan membuat kedangkalan itu lebih cepat menyebar.

Karena itu, tantangan kita bukan sekadar memiliki ruang komunikasi, tetapi membangun budaya komunikasi.

Budaya di mana pertanyaan tidak dianggap ancaman.

Budaya di mana klarifikasi tidak dibaca sebagai kecurigaan.

Budaya di mana transparansi dipahami sebagai bagian dari kepercayaan, bukan lawannya.

Sokrates tidak pernah menawarkan sistem yang rumit. Ia menawarkan satu kebiasaan sederhana: tidak menerima sesuatu begitu saja tanpa diperiksa.

Kebiasaan ini mungkin tidak selalu nyaman. Ia bisa memperlambat. Ia bisa membuat percakapan terasa lebih panjang. Tetapi di situlah kualitas sebuah komunitas diuji: bukan pada seberapa cepat ia bergerak, tetapi pada seberapa jujur ia memahami dirinya sendiri.

Pada akhirnya, Sokrates tidak lagi hidup di pengadilan atau di ruang publik Athena. Ia hadir di setiap percakapan yang memilih untuk tidak menjawab pertanyaan yang sebenarnya penting. Dan pilihan itu—untuk menjawab atau mengabaikan—adalah sesuatu yang tidak hanya membentuk percakapan, tetapi juga membentuk masa depan komunitas itu sendiri.@

***

Penulis adalah Penggiat Lingkungan Basis Budaya dan mantan Bupati Kabupaten Samosir Sumatera Utara

Scroll to Top