Pangkalberas | EGINDO.com – Tidak banyak yang percaya ketika Kusman mulai mengembangkan budidaya madu di Dusun Limang, Desa Pangkal Beras, Kabupaten Bangka Barat pada 2016. Berbekal pengetahuan yang dipelajarinya secara autodidak dari internet dan modal yang terbatas, ia tetap mencoba mengembangkan usaha madu yang saat itu dianggap tidak menjanjikan oleh sebagian orang di sekitarnya.
Ketertarikannya muncul setelah melihat potensi usaha madu yang berkembang di berbagai daerah. Ia kemudian bertanya pada dirinya sendiri mengapa madu khas Bangka tidak bisa berkembang dan dikenal lebih luas seperti produk serupa dari daerah lain. Berbekal keyakinan tersebut, Kusman mulai mengembangkan 50 log madu berukuran sekitar 25 sentimeter x 50 sentimeter. Modal yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp100 ribu per log dan setiap log setidaknya harus menghasilkan satu kilogram madu agar biaya produksinya dapat kembali.
“Awalnya saya dicemooh mana ada duitnya dan tidak akan bertahan lama. Tapi saya pikir kalau tidak dicoba, saya tidak akan pernah tahu sejauh mana potensi madu Bangka bisa berkembang,” ujar Kusman sebagaimana yang dilansir dalam resmi Sinar Mas Agribusiness and Food yang dikutip EGINDO.com pada Senin (29/6/2026).
Sebulan setelah percobaan pertamanya, Kusman berhasil melakukan panen perdana. Hasil tersebut menjadi titik awal yang mendorongnya untuk terus mengembangkan budidaya madu dan menambah jumlah log produksi secara bertahap. Perjalanannya tidak selalu mudah karena produksi madu sangat bergantung pada kondisi alam. Dalam setahun, panen utama biasanya hanya terjadi satu kali, sementara panen berikutnya sangat dipengaruhi oleh musim berbunga dan kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Saat ini, Kusman mengembangkan tiga jenis madu yang memiliki karakteristik berbeda. Ketiganya adalah madu Apis dorsata yang terdiri dari madu pelawan, perepat, dan rempudung, madu Apis cerana yang bertekstur lebih kental, serta madu kelulut Trigona yang memiliki cita rasa khas dengan perpaduan asam dan pahit.
Dari ketiga jenis tersebut, madu Apis cerana menjadi salah satu fokus pengembangan yang saat ini didukung melalui program pendampingan PT Bumi Permai Lestari (BPL), anak usaha Sinar Mas Agribusiness and Food. Jenis madu ini memiliki potensi untuk dikembangkan secara berkelanjutan karena dapat dibudidayakan dan dikelola secara lebih terukur oleh masyarakat.
Ketekunan tersebut membuahkan hasil ketika Kusman meraih penghargaan Juara III kategori usaha mikro dalam ajang UMKM Berprestasi tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada 2018. Penghargaan tersebut semakin memperkuat keyakinannya bahwa usaha madu dapat menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan bagi masyarakat sekitar. Perkembangan usaha yang dirintis Kusman juga mendorong lahirnya Kelompok Tani Hutan (KTH) Padang Harapan Limang pada 2017. Hingga kini, kelompok tersebut telah memiliki 25 anggota yang turut mengembangkan potensi madu dan hasil hutan nonkayu lainnya di wilayah mereka.
Sejak 2025, PT Bumi Permai Lestari (BPL) mulai mendampingi KTH Padang Harapan Limang melalui program pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada pengembangan usaha madu dan hasil hutan bukan kayu. Program ini dikembangkan sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk turut berperan dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Pengembangan budidaya lebah madu dipilih karena memberikan manfaat ekonomi tanpa mengurangi tutupan hutan. Ketergantungan lebah terhadap keberadaan vegetasi berbunga mendorong masyarakat untuk menjaga pohon dan tanaman pakan lebah agar tetap tersedia, sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pelestarian hutan. Pendekatan ini diharapkan mendukung praktik agroforestri yang berkelanjutan, mengurangi tekanan terhadap pemanfaatan hutan yang merusak, serta mendorong masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari hasil hutan bukan kayu.
Bagi masyarakat di Dusun Limang, madu bukan sekadar komoditas yang dipanen dari alam. Keberadaannya juga menjadi alasan untuk menjaga kawasan hutan yang selama ini menjadi sumber pakan lebah sekaligus sumber penghidupan masyarakat. Pada Oktober 2025, PT Bumi Permai Lestari (BPL) memberikan dukungan berupa 50 log madu dan lima set alat pelindung diri untuk membantu pengembangan usaha kelompok. Dari bantuan tersebut, kelompok telah berhasil memanen sekitar 20 kilogram madu dari 20 log yang telah berproduksi. Namun bagi Kusman, tantangan terbesar saat ini bukan lagi bagaimana menghasilkan madu, melainkan bagaimana membawa produk tersebut menjangkau pasar yang lebih luas.
Karena itu, pendampingan yang dilakukan oleh perusahaan dan Sekolah Tani Indonesia saat ini tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga penguatan aspek usaha. Mulai dari pengembangan identitas merek, desain kemasan dan label produk, penyesuaian kemasan sesuai karakteristik madu, hingga penguatan administrasi usaha dan perluasan saluran pemasaran. Selama ini, sebagian besar penjualan masih mengandalkan pelanggan tetap dan rekomendasi di desa-desa sekitar. “Selama ini orang yang membeli kebanyakan datang karena sudah kenal atau mendapat informasi dari mulut ke mulut. Harapan saya, suatu hari nanti ketika orang mencari madu khas Bangka, produk dari Dusun Limang menjadi pilihan mereka,” ucap Kusman.
Saat ini, produk madu KTH Padang Harapan Limang juga telah digunakan sebagai cendera mata dalam berbagai kegiatan yang melibatkan PT Bumi Permai Lestari (BPL) dan para mitra. Langkah tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan produk kepada khalayak yang lebih luas sekaligus membuka peluang pasar baru bagi kelompok. “Setiap daerah memiliki potensi lokal yang unik. Melalui pendampingan ini, kami ingin membantu masyarakat memperkuat aspek usaha sehingga produk madu khas Limang dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan memberikan nilai tambah. Kami berharap inisiatif ini dapat terus berkembang dan mendukung penguatan ekonomi masyarakat melalui berbagai usaha produktif yang berkelanjutan,” ujar Ismail Arsyad, Regional Controller PT Bumi Permai Lestari (BPL).
Program pemberdayaan masyarakat ini merupakan bagian dari Bright Future Initiative, jaringan akselerasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Sinar Mas Agribusiness and Food yang telah membantu 163 UMKM dalam merealisasikan dan mengembangkan 280 proyek di berbagai wilayah operasional perusahaan di Indonesia. Harapan tersebut menjadi langkah berikutnya bagi KTH Padang Harapan Limang. Setelah membuktikan bahwa madu dapat berkembang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat, mereka kini berupaya agar produk khas yang lahir dari Dusun Limang dapat dikenal oleh lebih banyak konsumen di dalam maupun luar Bangka Belitung.@
Rel/fd/timEGINDO.com