Siapa Paling Hebat Hari Ini?

Dr.Wilmar Eliaser Simandjorang
Dr.Wilmar Eliaser Simandjorang

Oleh: Dr.Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec.,DIpl_Plan.,M.SI

Di sebuah rapat keluarga yang katanya biasa—tapi selalu penuh drama—semua sibuk unjuk hebat.
“Saya baru naik jabatan!”
“Anak saya sudah kerja di luar negeri!”
“Rumah baru, tiga sekaligus!”

Aku duduk diam, tersenyum kecil. Lucu sekali, melihat semua orang berlomba tampil “wah”… padahal yang diukur bukan hati, tapi seberapa banyak yang bisa bikin orang lain ternganga.

Tiba-tiba, pintu terbuka, dan suasana berubah. Seperti tahu rapat ini butuh bumbu, para filsuf masuk dengan gaya santai tapi penuh komentar jenaka. Mereka tidak menggurui, tapi nimbrung dengan cara yang bikin semua terkejut dan tertawa.

Democritus menepuk meja:
“Hahaha! Kalian semua sibuk menunjukkan betapa hebatnya diri… padahal kalian cuma kumpulan atom yang suatu saat akan tercerai-berai. Lho, lucu kan?”

Socrates mencondongkan badan, tatapan serius tapi senyum kecil di bibir:
“Jadi… kalian semua sedang pamer, ya? Tapi coba pikir—apakah kalian sadar bahwa kalian tidak tahu bahwa tidak tahu? Itu yang paling menarik dari rapat ini.”

Epicurus mengunyah roti sambil bersandar:
“Tenang, tenang… hidup itu sesederhana roti hangat dan teman ngobrol. Kalian terlalu serius. Kalau mau pamer, pamer saja roti enak ini, lebih bermanfaat.”

Nietzsche melempar senyum miring, melirik satu per satu:
“Dulu ada yang bilang ‘Tuhan telah mati’… tapi lihat rapat ini, yang lebih dulu mati itu rasa cukup. Sisanya? Tinggal lomba siapa paling pandai terlihat hebat.”

Camus menatap jendela, suara lembut tapi menggigit:
“Rapat ini terasa aneh tapi nyata, ya. Tapi kita tetap hadir, tetap mencoba… itu semacam perlawanan kecil terhadap hidup yang sering tidak masuk akal.”

Aku tersenyum pelan. Rapat keluarga memang menggelitik. Kadang terasa aneh tapi nyata.
Tapi justru karena itu, kita bebas. Bebas menertawakan seperti Democritus, mempertanyakan seperti Socrates, menikmati seperti Epicurus, menantang seperti Nietzsche, atau menerima seperti Camus.

Dan di balik semua obrolan yang riuh itu, sebenarnya tersimpan sesuatu yang lebih tenang: nilai-nilai luhur—yang tumbuh dari hal-hal sederhana, dari kebiasaan sehari-hari, dan dari warisan leluhur yang diam-diam membentuk cara kita saling menyapa, membantu, dan bertahan bersama. Semacam kristalisasi kearifan yang sudah lama hidup di antara kita, meski sering terlupa saat kita terlalu sibuk terlihat hebat.

Di akhir rapat, semua tersenyum, mengangguk, lalu pulang. Nilai luhur? Masih ada… terselip di antara gelak tawa dan roti Epicurus yang tersisa.@

***

Scroll to Top