Setelah Imlek 15 Hari, Muncul Keindahan Bulan Purnama

Fadmin Malau
Fadmin Malau

Oleh: Fadmin Malau

Bulan Purnama atau bulan penuh disebut dengan Cap Go Meh. Hal itu terjadi pada saat malam ke-15 bulan pertama dalam penanggalan kalender China. Cap Go Meh artinya 15 hari setelah Imlek. Cap artinya sepuluh Go artinya lima dan Meh artinya malam.

Pada saat itu para petani di China memasang lampu Lampion di areal persawahan atau di ladang-ladang milik mereka karena akan dimulai kembali musim tanam. Maksud dan tujuan pemasangan lampu Lampion di areal persawahan atau perladangan agar terang, mendatangkan keindahan dan mengusir hama serta menakut-nakuti hewan perusak tanaman.

Hama tanaman harus diusir karena itu musuh utama para petani dan itu dilakukan ketika dimulai kembali bercocoktanam. Lampu Lampion dipasang untuk menyambut Tahun Baru Imlek dan Lampion dipercaya bisa mengusir roh jahat di permukaan bumi ini. Kepercayaan itu sudah ada sejak nenak moyang etnis Tionghoa dan sampai kepada generasi sekarang.

Imlek terdiri dari kata Im dan Lek. Im artinya bulan dan Lek artinya penanggalan. Jadi Imlek adalah bulan penanggalan atau kalender atau penanggalan yang dimulai dari tanggal 15 bulan pertama dalam kalender China. Untuk itu maka perayaan Imlek berlangsung dari tanggal 15 bulan ke-12 hingga tanggal 15 pada bulan pertama.

Dari penanggalan itu sesungguhnya perayaan Imlek bisa berlangsung selama satu bulan karena Imlek merupakan penyambutan musim semi bagi para petani di China. Kegiatan selama sebulan itu melakukan peribadatan kepada Tuhan seperti sembahyang kepada Sang Pencipta atau leluhur sebagai wujud rasa syukur yang telah diberi rejeki oleh sang Pencipta. Rejeki yang diperoleh selama satu tahun dinilai bukan hanya karena kerja keras tetapi dikarenakan adanya pemberian, campur tangan dari Sang Pencipta kepada manusia. Untuk itu sebagai manusia wajib bersyukur agar tahun mendatang diberi rejeki lebih banyak lagi.

Baca Juga :  Pameran Filateli Dunia Di Jakarta Dibuka, 61 Negara Hadir

Tanah yang subur adalah karunia Tuhan kepada manusia. Begitu juga terhindar dari hama dan penyakit tanaman merupakan pemberian, karunia Tuhan sebab dengan terhindar dari hama dan penyakit tanaman dasar dari keberhasilan produksi tanaman pertanian.

Sejalan dengan itu kegiatan memasang lampu Lampion di areal persawahan dan perladangan untuk mewujudkan pertanian yang tangguh dan menuju keberhasilan pertanian. Bila pertanian berhasil maka perekonomian petani akan meningkat. Perekonomian meningkat maka kesejahteraan petani bisa diwujudkan. Harapan keberhasilan pertanian sangat penting bagi kehidupan manusia. Untuk itu manusia harus bekerja sungguh-sungguh, terus berjuang, pantang menyerah.

Antisipasi Sejak Dini

Keberhasilan bukan kebetulan. Keberhasilan karena kerja keras dan restu dari Sang Pencipta maka harus dilakukan sungguh-sungguh dengan antisipasi sejak dini agar tidak terjadi yang tidak diinginkan. Kemungkinan buruk yang datang harus diwaspadai maka hama dan penyakit tanaman jangan sampai menjangkiti tanaman.

Antisipasi, sediakan payung sebelum hujan menjadi prinsip dalam mewujudkan keberhasilan. Sejalan, selaras dan serasi dalam prinsip ekonomi yakni meminimalkan kegagalan maka harus diantisipasi segala resiko yang kemungkinan terjadi. Kegagalan akan mendatangkan kerugian. Untuk itu kegagalan harus dihilangkan.

Andai kegagalan itu tidak bisa dihindari maka antisipasi harus dilakukan dengan adanya cadangan makanan. Kegagalan produksi pertanian jangan sampai mengancam ketahanan pangan. Untuk cadangan pangan harus ada maka lahirlah yang namanya Kue Keranjang (Nian Gao) atau Kue Bakul yang terbuat dari tepung ketan dan gula dengan memiliki tekstur kenyal dan lengket. Kue Bakul merupakan persediaan ketika terjadi kegagalan produksi pertanian kala itu. Andai pun terjadi kegagalan produksi pertanian akan tetapi telah diantisipasi dengan menyiapkan cadangan makanan (Kue Bakul) sebagai solusi dari kegagalan pertanian. Artinya masyarakat petani di China tidak sampai kelaparan.

Baca Juga :  Adanya Etnis Pesisir, Berdasarkan UU Nomor 40 Tahun 2008

Terjadinya kelaparan merupakan tanda dari kegagalan ekonomi. Untuk itu harus tersedia bahan pangan yang cukup. Kehidupan para petani di China kala itu selalu berharap keberhasilan yang diraih setiap tahun. Keberhasilan bukan kebetulan atau tidak datang dengan sendirinya karena berbagai tantangan selalu menghadang. Kegagalan pertanian yang berakibat kepada kelaparan bisa saja terjadi disebabkan banjir, tanah longsor, kemarau panjang dan lainnya.

Kelaparan terjadi disebabkan gagal panen untuk itu antisipasi pangan bagi para petani di China waktu itu dilakukan dengan membuat Kue Bakul. Tidak ada pilihan karena kala itu belum dikenal dengan yang namanya impor pangan antar negara. Pilihan hanya kepada adanya cadangan makanan, Kue Bakul solusinya karena kue yang bisa disimpan lama dengan rasa enak. Sangat dibutuhkan kue yang tahan lama sebagai antisipasi terjadinya kegagalan produksi pertanian.

Tidak mudah memberhasilkan pertanian, harus kerja keras, bercocoktanam sebagai kegiatan bisnis yang juga sangat ditentukan oleh Sang Pencipta. Artinya, para petani (manusia) harus bekerja keras, berusaha secara maksimal dalam bercocoktanam. Bila berhasil bercocoktanam maka perekonomian petani meningkat dan para petani bersyukur karena keberhasilan pertanian turut sertanya Sang Pencipta.

Rasa syukur para petani di China kala itu diwujudkan ketika merayakan Tahun Baru Imlek sebagai makna rasa syukur kepada Sang Pencipta. Hal itu karena hasil pertanian selama setahun yang berlalu dalam keadaan baik maka pantaslah bersyukur, berdoa agar tahun berikutnya (mendatang) Sang Pencipta kembali memberikan hasil pertanian yang lebih baik dan banyak lagi.

Untuk itu sesungguhnya perayaan Imlek yang dilakukan sebulan penuh menjadi satu manifestasi dari keuletan, kegigihan, kerja keras yang selalu didasari dengan memohon bantuan dari Sang Pencipta agar diberikan hasil produksi pertanian yang maksimal.

Baca Juga :  Wartawan Dari Barus Lawan Belanda Terbitkan Majalah BOM

Lampion yang menghiasi perayaan Imlek bermakna satu keuletan, kegigihan, kerja keras dari para petani di China kala itu. Berkat keuletan, kegigihan, kerja keras dari para petani membuahkan hasil yakni produksi pertanian melimbah.

Melimpahnya hasil produksi pertanian tahun yang lalu dirayakan dengan rasa syukur dan memohon kepada Sang Pencipta agar diberikan lagi hasil produksi pertanian yang lebih baik lagi dari tahun yang berlalu. Untuk itu berbagai ritual dari kearifan budaya lokal dilakukan sebagai upaya mewujudkan swasembada pangan.

Kearifan lokal pada zaman dahulu itu perlu diapresiasi pada zaman now ini. Hal itu karena untuk memberhasilkan produksi pertanian tidak mudah. Tidak bisa hanya berteori, apa lagi hanya beretorika akan tetapi harus berkarya dengan karya nyata. Patut diapresiasi karena kearifan lokal itu sebagai modal dasar untuk memotivasi diri dalam memberhasilkan produksi pertanian yang memberikan sumbangsih, kontribusi kepada perekonomian.

Pemikiran, gagasan dan cara pikir yang penuh antisipasi agar tidak terjadi kegagalan produksi pertanian memberikan kepastian akan ketersediaan pangan atau mewujudkan ketahanan pangan berbasis swasembada pangan.

Keindahan bulan purnama, bulan penuh dengan cahaya menerangi bumi pada malam Cap Go Meh sebagai pertanda dimulainya kembali musim tanam tanaman pertanian pada tahun ini. Ketika dimulai musim tanam, harus ditanamkan niat, tekad yang kuat untuk berhasil. Bila tanpa niat, tekad yang kuat maka sulit untuk berhasil. Memulai musim tanam ketika bulan purnama tiba sebagai energi yang kuat untuk berhasil memproduksi produksi pertanian tahun ini lebih baik dari tahun lalu. Semoga!

***

Bagikan :