Jakarta|EGINDO.co Keberadaan Sesar Cisadane di Jawa Barat kembali menjadi perhatian setelah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkannya sebagai sesar potensial aktif. Status tersebut menunjukkan bahwa tingkat keaktifannya berada di bawah sesar aktif karena belum memiliki catatan sejarah kegempaan terbaru yang terdokumentasi.
Kepala Pusat Survei Geologi Badan Geologi, Edy Slameto, menjelaskan bahwa sesar potensial aktif merupakan patahan yang aktivitas geologinya diperkirakan terjadi pada rentang puluhan ribu hingga jutaan tahun silam. Minimnya rekaman gempa membuat tingkat keaktifannya belum dapat dipastikan seperti halnya sesar aktif.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa potensi pergerakan sesar tidak boleh diabaikan. Badan Geologi menilai langkah mitigasi tetap krusial guna menekan risiko korban jiwa maupun kerugian material apabila sewaktu-waktu terjadi reaktivasi patahan.
Upaya yang dilakukan antara lain melalui edukasi kebencanaan, sosialisasi kepada masyarakat, serta penyediaan informasi geologi yang akurat. Langkah tersebut ditujukan agar warga yang bermukim di sekitar jalur sesar memiliki kesiapsiagaan yang memadai.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengungkapkan bahwa Sesar Cisadane tergolong sesar tua yang terbentuk sekitar 5 juta tahun lalu. Patahan ini memiliki arah umum Barat Laut–Tenggara dan memanjang searah dengan aliran Sungai Cisadane.
Sejumlah laporan media nasional seperti Kompas dan Antara juga menyoroti pentingnya pemetaan detail serta penguatan literasi kebencanaan di wilayah lintasan sesar. Para ahli mengingatkan bahwa meskipun belum tentu aktif, kewaspadaan dini tetap menjadi kunci pengurangan risiko bencana geologi.
Pemerintah pun mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah Jawa Barat yang dilintasi Sesar Cisadane, untuk memahami potensi ancaman di lingkungannya dan mengikuti arahan mitigasi yang disampaikan otoritas terkait. (Sn)