Yangon | EGINDO.co – Serangan udara militer Myanmar terhadap sebuah biara—tempat warga sipil berkumpul untuk mengikuti retret meditasi dalam rangka masa Puasa Buddha (Buddhist Lent)—menewaskan 14 orang; demikian disampaikan oleh dua anggota kelompok pemberontak yang menyaksikan langsung lokasi kejadian setelah serangan.
Serangan pada hari Jumat (21 Agustus) itu menghantam aula biara sekitar pukul 09.00 pagi di wilayah Myaung, kawasan Sagaing tengah, dan menewaskan 11 pria serta tiga wanita, ujar Nway Oo Myaung, seorang pemberontak pro-demokrasi yang turut mengevakuasi jenazah.
“Karena saat itu sedang berlangsung masa Puasa Buddha… para lansia telah masuk ke pusat meditasi tersebut untuk menjalani kegiatan selama tiga bulan,” ujarnya.
“Mereka yang tewas berusia antara 50 hingga 70 tahun,” tambahnya. “Itu bukan salah sasaran; mereka memang sengaja menyerang biara.”
Seorang anggota kelompok perlawanan lokal lainnya, yang berbicara dengan syarat anonimitas, mengatakan pada hari Sabtu: “Lima korban tewas berasal dari desa kami, sedangkan sembilan lainnya berasal dari desa-desa lain.”
“Saat kami sedang berupaya mengevakuasi orang-orang, pesawat kembali datang untuk menjatuhkan bom kedua kalinya,” tuturnya.
Pihak militer Myanmar tidak dapat segera dihubungi untuk dimintai tanggapan.
Militer Myanmar memicu perang saudara ketika merebut kekuasaan dalam kudeta tahun 2021, menggulingkan pemerintahan terpilih pimpinan Aung San Suu Kyi dan menahan peraih Nobel Perdamaian tersebut.
Pekan lalu, tim penyelidik PBB menerbitkan laporan yang menuduh militer melakukan “serangan udara yang membabi buta dan disengaja terhadap warga sipil”.
Sumber : CNA/SL