Jakarta|EGINDO.co Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan tertahan di zona merah pada perdagangan Rabu (22/4/2026). Setelah gagal bertahan dan terkoreksi 0,46% ke posisi 7.559 pada penutupan kemarin, indeks kini dihantui risiko pelemahan lanjutan untuk menguji area gap di rentang 7.245 hingga 7.447.
Efek Domino Rebalancing MSCI
Langkah MSCI yang berencana mendepak saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) menjadi pukulan telak bagi pasar modal domestik. Dua emiten raksasa, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), langsung menjadi sasaran aksi jual masif.
Analis memperkirakan potensi dana asing yang keluar (outflow) dari kedua saham ini tidak main-main. DSSA diprediksi kehilangan aliran dana sebesar Rp9 triliun, sementara BREN berpotensi melepas Rp6 triliun saat penyesuaian indeks efektif pada 1 Juni mendatang. Tidak hanya itu, saham blue chip perbankan dan telekomunikasi seperti BBRI dan TLKM juga terpantau ikut layu, menambah beban bagi indeks.
Analisis Teknikal: Ruang Koreksi Masih Terbuka
Berdasarkan riset harian MNC Sekuritas, pergerakan IHSG saat ini secara teknikal berada di fase akhir wave koreksi. Meski ada celah untuk penguatan sesaat (rebound) ke level 7.580–7.601, namun tekanan jual masih mendominasi.
Berikut adalah peta kekuatan IHSG hari ini:
-
Batas Bawah (Support): 7.488 dan 7.351
-
Batas Atas (Resistance): 7.700 dan 7.861
Intip Peluang di Tengah Tekanan
Menariknya, di balik rontoknya saham-saham berkapitalisasi besar, pasar masih mencatatkan gairah di sektor lapis kedua. Terbukti, 386 saham tetap mampu parkir di zona hijau, dengan lonjakan signifikan pada saham LAND (+34,72%) dan LCKM (+34,48%).
Bagi investor yang ingin menyusun strategi hari ini, sejumlah saham tetap masuk dalam radar rekomendasi analis untuk dipantau, di antaranya:
-
BRPT (Barito Pacific)
-
CDIA (Candi Swadaya Sentosa)
-
PTRO (Petrosea)
-
RATU (Ratu Prabu Energi)
Pasar kini cenderung bersikap wait and see sembari mencermati derasnya volume penjualan yang dilakukan investor asing menjelang pemberlakuan aturan baru MSCI tersebut. (Sn)