Semangat Dan Harapan Pada Kota Jakarta

TAK PERNAH SEPI: Kota tua di Jakarta Barat tak pernah sepi, dari pagi, siang, petang hingga malam hari sebelum dilanda Covid-19. Museum Fatahillah di Kota Tua Jakarta Barat pada malam hari, ribuan warga dari berbagi daerah berkumpul menikmati malam. (Foto/teks: Fadmin Malau)
TAK PERNAH SEPI: Kota tua di Jakarta Barat tak pernah sepi, dari pagi, siang, petang hingga malam hari sebelum dilanda Covid-19. Museum Fatahillah di Kota Tua Jakarta Barat pada malam hari, ribuan warga dari berbagi daerah berkumpul menikmati malam. (Foto/teks: Fadmin Malau)

Ketika Coronavirus (Covid-19) melanda ibukota Jakarta, sepi bak “kota mati.” Jutaan orang setiap hari memenuhi kota Jakarta, sirna. Jalanan lengang, bebas dari kemacetan lalu lintas, sepi dari kegiatan. Jutaan orang bersemangat melawan virus corona dengan harapan virus yang mematikan itu segera sirna. Foto-foto ibukota Jakarta sebelum dilanda Covid-19 dan ketika Covid-19 melanda ibukota. (Teks dan Foto-foto: Fadmin Malau)

MENGGANTUNGKAN HIDUP: Ratusan pedagang makanan, minuman, sourvenir hinggga pemusik jalanan menggantungkan hidup dari geliat kawasan kota tua Jakarta sebelum dilanda Covid-19. (Foto/teks: Fadmin Malau)

 

 

 

STASIUN JAKARTA KOTA: Ribuan orang setiap hari beraktivitas di Stasiun Jakarta Kota Jakarta Barat, mulai dari ojek online hingga pedagangg makanan, minuman tak pernah sepi sebelum dilanda Covid-19. (Foto/teks: Fadmin Malau)

 

TANPA KENDERAAN: Kemacetan lalulintas di Jakarta dihentikan dengan Car Free Day untuk menurunkan ketergantungan terhadap kendaraan bermotor di Jalan MH. Thamrin Jakarta Pusat. Setiap Minggu pagi jalanan itu tanpa kendaraan, sebelum dilanda Covid-19. (Foto/teks: Fadmin Malau)

 

BUNDARAN HI: Tumpah ruah warga memenuhi bundaran Hotel Indonesia (HI) setiap Minggu pagi, berolah raga, mencari hiburan, menikmati ibukota Indonesia sebelum dilanda Covid-19. (Foto/teks: Fadmin Malau)
GEDUNG TUA: Sebelum Covid-19 melanda ribuan orang setiap mengunjungi gedung – gedung tua di kota tua Jakarta Barat. Ketika Covid-19 melanda, gedung – gedung tua itu sepi dari pengunjung. Jakarta bak “kota mati”. (Foto/teks: Fadmin Malau)
MENCARI HIBURAN: Setiap malam ribuan orang mendatangi kawasan kota tua di Jakarta Barat, sekadar mencari hiburan sebelum dilanda Covid-19. (Foto/teks: Fadmin Malau)
TANPA CAR FREE DAY: Sebelum dilanda Covid-19 kemacetan lalulintas di Jalan MH. Thamrin Jakarta Pusat. Ketika Covid-19 melanda jalanan ini tak perlu ada Car Free Day karena ada Pemberlakuan Pembatasn Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan Jalan MH. Thamrin Jakarta Pusat sepi. Jakarta bak “kota mati”. (Foto/teks: Fadmin Malau)
DISEKAT: Ratusan ruas jalan di Jakarta disekat ketika Covid-19 melanda. Ruas jalan MH. Thamrin Jakarta Pusat sepi. Jakarta bak “kota mati”. (Foto/teks: Fadmin Malau)

 

DITUTUP: Sebelum dilanda Covid-19 ratusan pedagang makanan, minuman, sourvenir hinggga pemusik jalanan menggantungkan hidup di lokasi ini. Ketika Covid-19 melanda kawasan kota tua Jakarta Barat ditutup, Jakarta bak “kota mati”. (Foto/teks: Fadmin Malau)
DEPAN ISTANA: Sebelum dilanda Covid-19 lalulintas di depan Istana Negara Jakarta Pusat, padat merayap. Ketika Covid-19 melanda jalanan ini sepi karena ada Pemberlakuan Pembatasn Kegiatan Masyarakat (PPKM). Jakarta bak “kota mati”. (Foto/teks: Fadmin Malau)
DIBATASI: Sebelum Covid-19 melanda bus TransJakarta penuh sesak penumpang. Ketika Covid-19 melanda, penumpang dibatasi dengan berbagai persyaratan, sepi dari pengunjung. Jakarta bak “kota mati”. (Foto/teks: Fadmin Malau)
Bagikan :
Baca Juga :  AS Blokir Impor Dari Perusahaan Perikanan Cina Dalian Ocean