Seluruh Fasilitas Produksi APP, Mengubah Air Limbah Menjadi Biofuel

Unit Pengolahan Air Limbah (WWT)
Unit Pengolahan Air Limbah (WWT)

Jakarta | EGINDO.com – Diseluruh fasilitas produksi Asia Pulp and paper (APP), perusahaan telah menerapkan berbagai upaya untuk pendekatan praktis dan berkelanjutan dalam mengelola limbah dan penggunaan energi. Salah satu metode tersebut adalah dengan mengadopsi model bioekonomi sirkular di mana APP berfokus pada pemanfaatan sumber daya alam yang efisien dan pengurangan limbah. Atau dengan kata yang lebih sederhana, menghasilkan energi dari limbah.

Melansir laman resmi APP Group menyebutkan dalam upaya mencari sumber energi alternatif, perusahaan telah mengembangkan unit Pengolahan Air Limbah (WWT) yang mengolah air limbah melalui beberapa tahap, termasuk proses fisik, kimia, dan biologi untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan kebutuhan oksigen kimia. Biosludge yang dihasilkan selama proses ini dikeringkan untuk mengurangi kadar airnya, sehingga cocok untuk digunakan sebagai pengganti bahan bakar di boiler perusahaan.

Baca Juga :  APP Sinarmas Saat Covid-19, Bergerak Bersama Komunitas
Biosludge dicampur dengan batubara dan serpihan kayu dimasukkan ke dalam boiler

“Biosludge ini dicampur dengan batu bara dan serpihan kayu untuk dimasukkan ke dalam boiler. Dengan cara ini, kami mengurangi penggunaan batu bara dengan menggabungkannya dengan dua jenis biomassa yang berbeda,” jelas Eman Chitalindo dari pabrik Tangerang.

Ia menambahkan bahwa proses tersebut, yang pertama kali diujicobakan lima tahun lalu, menghasilkan 20 ton biosludge per hari. Dengan memasukkan biosludge ke dalam bauran energi, pabrik tersebut mengurangi ketergantungannya pada batu bara, yang membantu menurunkan emisi gas rumah kaca dan berkontribusi pada lingkungan yang lebih bersih.

Secara terpisah, di pabrik Serang, proses lain yang memanfaatkan pencernaan anaerobik digunakan untuk memperoleh biogas dari pengolahan air limbah. Dalam proses ini, biosludge dipompa ke dalam tangki besar yang disebut digester, tempat bakteri anaerobik, khususnya metanogen, memecah bahan organik tanpa oksigen, melepaskan biogas. Biogas ini, yang utamanya terdiri dari metana dan karbon dioksida, dapat digunakan untuk menghasilkan listrik atau panas, yang selanjutnya mengurangi ketergantungan perusahaan pada bahan bakar fosil.

Baca Juga :  Remaja Bunuh 19 Anak Dalam Penembakan Massal Terbaru Di AS

“Proses pencernaan anaerobik memungkinkan kami mengubah air limbah menjadi biogas, yang kemudian dihasilkan menjadi uap untuk mendukung mesin kertas. Ini tidak hanya menyediakan sumber energi terbarukan tetapi juga membantu kami mengelola limbah dengan lebih efektif,” kata Nova Safarinulloh di pabrik Serang.

Praktik sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 7 dan 12 Perserikatan Bangsa-Bangsa. SDG 7 bertujuan untuk memastikan akses terhadap energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan, dan modern untuk semua. Dengan menggunakan biosludge sebagai sumber energi terbarukan, APP mendukung penggunaan alternatif energi berkelanjutan. SDG 12 berfokus pada memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan, dan model bioekonomi sirkular APP mencontohkan tujuan ini dengan meminimalkan limbah dan memaksimalkan efisiensi sumber daya.

Baca Juga :  Grab Basis Singapura Pangkas 1.000 Jobs Untuk Kelola Biaya

Pendekatan terhadap pengolahan air limbah dan pemanfaatan biosludge ini merupakan contoh praktis tentang bagaimana industri dapat mengadopsi praktik berkelanjutan, dan bahwa manfaat lingkungan dan operasional dapat dicapai. Dengan mengurangi penggunaan batu bara dan mempromosikan sumber energi terbarukan, APP membuat langkah signifikan menuju pencapaian SDG 7 dan 12. Pendekatan ini tidak hanya menguntungkan lingkungan tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.@

App/fd/timEGINDO.com

 

Bagikan :
Scroll to Top