Jakarta | EGINDO.CO Pernyataan Presiden Amerika Serikat yang belakangan mengungkap minat untuk mengambil alih Greenland kembali memantik perhatian dunia. Gagasan tersebut menuai kritik dan perdebatan internasional, namun sekaligus mengungkap satu fakta penting: Greenland bukan sekadar pulau es terpencil, melainkan wilayah dengan nilai strategis tinggi dan sejarah panjang yang kompleks.
Jejak awal manusia di Greenland dapat ditelusuri hingga sekitar 2500 tahun sebelum Masehi. Kelompok pemburu-pengumpul Paleo-Inuit merupakan manusia pertama yang diketahui mendiami wilayah ini. Mereka datang dari Amerika Utara dan bertahan hidup dengan berburu mamalia laut serta memanfaatkan sumber daya alam di lingkungan Arktik yang ekstrem. Sepanjang ribuan tahun berikutnya, Greenland mengalami beberapa gelombang migrasi manusia yang datang dan pergi, sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim yang keras dan tidak stabil.
Greenland mulai dikenal dunia Barat pada akhir abad ke-10, ketika seorang penjelajah Viking bernama Erik the Red tiba di wilayah tersebut setelah diasingkan dari Islandia. Dalam catatan saga Nordik—kisah lisan bangsa Viking yang kemudian dituliskan pada Abad Pertengahan, terutama di Islandia—Erik disebut menamai wilayah itu “Greenland” sebagai upaya menarik minat pemukim Skandinavia. Saga-saga ini mengisahkan perjalanan, tokoh, dan peristiwa penting dunia Viking, termasuk penjelajahan ke Greenland. Meski tidak sepenuhnya dapat disamakan dengan catatan sejarah modern, saga Nordik dipandang sebagai sumber awal yang penting, dan banyak bagiannya kemudian diperkuat oleh temuan arkeologis. Strategi penamaan tersebut terbukti efektif. Ratusan orang Norse kemudian menetap di pesisir barat daya Greenland dan membangun komunitas pertanian yang terhubung dengan jaringan perdagangan dunia Viking di Atlantik Utara.
Selama hampir empat abad, permukiman Viking bertahan dengan mengandalkan pertanian, peternakan, dan perdagangan gading walrus ke Eropa. Namun pada abad ke-15, komunitas ini menghilang. Para sejarawan menyebut sejumlah faktor sebagai penyebabnya, mulai dari perubahan iklim akibat Zaman Es Kecil, menurunnya hasil pertanian, keterasingan dari jalur perdagangan, hingga ketidakmampuan beradaptasi sepenuhnya dengan lingkungan Arktik. Sejak saat itu, era Viking di Greenland berakhir.
Di sisi lain, masyarakat Inuit justru mampu bertahan dan berkembang. Sekitar abad ke-12 hingga ke-13, kelompok budaya Thule bermigrasi dari Kanada ke Greenland. Mereka membawa teknologi yang lebih sesuai dengan kondisi Arktik, seperti kereta anjing, perahu umiak, dan teknik berburu paus. Dari kelompok inilah masyarakat Inuit Greenland modern, yang dikenal sebagai Kalaallit, berasal. Hingga kini, mereka merupakan penduduk asli dan mayoritas populasi Greenland.
Setelah berabad-abad relatif terisolasi, Greenland kembali masuk ke orbit kekuasaan Eropa pada awal abad ke-18. Pada 1721, misionaris Denmark-Norwegia Hans Egede tiba di Greenland. Kedatangannya menandai awal kolonisasi modern. Permukiman yang ia dirikan berkembang menjadi Nuuk, yang kini menjadi ibu kota Greenland. Sejak saat itu, Greenland berada di bawah kendali Denmark dan dikelola sebagai koloni selama lebih dari dua abad.
Kolonisasi Denmark membentuk struktur ekonomi dan sosial Greenland melalui sistem monopoli perdagangan dan administrasi terpusat. Meski membawa modernisasi, kebijakan kolonial juga menciptakan ketergantungan ekonomi dan tekanan budaya terhadap masyarakat Inuit. Namun identitas Inuit tetap bertahan dan menjadi fondasi kehidupan sosial Greenland hingga hari ini.
Peran Greenland berubah signifikan pada abad ke-20. Selama Perang Dunia II, Denmark diduduki oleh Jerman Nazi, sementara Greenland terputus dari pemerintahan pusat. Dalam situasi itu, Amerika Serikat membangun pangkalan militer di Greenland untuk menjaga jalur strategis Atlantik Utara. Sejak periode ini, Greenland dipandang sebagai aset geopolitik penting dalam pertahanan global, peran yang berlanjut hingga era Perang Dingin.
Pasca-perang, status Greenland mengalami perubahan bertahap. Pada 1953, wilayah ini tidak lagi berstatus koloni dan menjadi bagian integral Kerajaan Denmark. Dorongan untuk mengatur diri sendiri terus menguat, hingga pada 1979 Greenland memperoleh pemerintahan sendiri. Kewenangan tersebut diperluas pada 2009 melalui undang-undang pemerintahan mandiri, termasuk hak mengelola sumber daya alam. Meski demikian, urusan pertahanan dan kebijakan luar negeri masih berada di bawah Denmark.
Kini, Greenland berada di tengah sorotan global. Perubahan iklim yang mencairkan lapisan es membuka peluang eksploitasi sumber daya mineral dan jalur pelayaran baru, sekaligus meningkatkan kepentingan negara-negara besar. Ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland, sebagaimana kembali mencuat belakangan ini, mencerminkan posisi strategis pulau tersebut dalam peta geopolitik dunia.
Sejarah panjang Greenland menunjukkan bahwa pulau ini bukan wilayah kosong yang dapat diperlakukan sebagai komoditas geopolitik semata. Ia adalah tanah yang telah dihuni manusia selama ribuan tahun, dengan identitas budaya yang kuat dan peran strategis yang terus berkembang. Di tengah tarik-menarik kepentingan global, masa depan Greenland pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh sejarah, posisi geopolitik, dan suara masyarakat yang telah lama menjadikannya rumah.
AL/Berbagai Sumber