Sejarah Kota Depok Yang Ternyata Pernah Punya Presiden

depok 1

Depok | EGINDO.co – Jika kamu mendengar kata Depok, apa yang pertama kali terlintas dipikiran kamu? Kemacetan di Margonda? Universitas Indonesia? Atau mall mall yang ada di Depok?

Tapi apakah kamu tahu kalau Depok yang merupakan kotamadya di provinsi Jawa Barat ini dulunya pernah menjadi sebuah negara tersendiri bahkan dipimpin oleh seorang presiden sebagai kepala negara sekaligus pemerintahan? Nah, baca penjelasannya sampai selesai ya kalau kamu penasaran!

Pada akhir abad ke-17, ada seorang saudagar Belanda kaya raya yang bernama Cornelis Chastelein, ia membeli tanah Depok seluas 12,44 km2 dengan harga Rp2,4 juta. Tanah tersebut statusnya partikelir yang berarti bukan kepunyaan pemerintah, maka dari itu tanah tersebut tidak termasuk dari kekuasaan pemerintah Hindia Belanda pada saat itu. Lalu pada abad ke-18, Depok merupakan wilayah administratif yang memiliki gemeente bestuur atau pemerintah sipil. Chastelein menjadi penguasa pertama dan pendiri Depok.

Pada saat itu wilayah Depok masih dikelilingi hutan belantara. Dengan bantuan para budaknya yang berasal dari berbagai suku daerah, Chastelein membabat hutan untuk membuka lahan garapan. Cakupan wilayah Depok waktu itu sangat luas, mulai dari seluruh kawasan Depok sekarang, Pasar Minggu di Jakarta Selatan, hingga Gambir di Jakarta Pusat juga dahulu masih menjadi kawasan Depok. Para penduduk pertama yang mendiami Depok adalah para budak milik Chastelein.

Depok mempunyai presiden pertama pada tahun 1913 dengan nama pemerintahan Het Gemeente Bestuur van Het Particuliere Land Depok. Presidennya dipilih secara demokratis oleh rakyat dan pusat pemerintahannya berada di titik Kilometer 0 yang ditandai oleh Tugu Depok. Tidak jauh dari situ, berdiri gedung pemerintahan yang sekarang difungsikan sebagai Rumah Sakit Harapan. Pada waktu itu presiden hanya menjabat selama tiga tahun saja.

Baca Juga :  Peluncuran Vaksin Sputnik V Covid-19 Rusia Dimulai Di India

Presiden pertama Depok adalah Gerrit Jonathans yang menjabat pada tahun 1913. Setelah itu terdapat tiga presiden yang memimpin, antara lain Martinus Laurens yang menjabat pada 1921, Leonardus Leander yang menjabat pada 1930, dan Johannes Matjis Jonathans yang menjabat pada 1952. Namun sangat disayangkan, sama sekali tidak ditemukan catatan terperinci dari masing-masing presiden di masa pemerintahannya.

 

Sejarah Terbentuknya Negara

Chastelein adalah sosok penganut katholik yang taat, tidak heran jika ia memiliki sikap yang dermawan pada para budaknya. Sebelum meninggal pada 28 Juni 1714, ia berwasiat kepada seluruh budaknya untuk memberikan mereka lahan, rumah, hewan, dan alat pertanian. Ia juga memberikan kemerdekaan setelah sepeninggalnya. Karena khawatir terjadi perebutan, ia menunjuk Jarong van Bali untuk memimpin dan mengatur mereka.

Para budak yang telah meredeka tersebut khawatir sepeninggal Jarong van Bali terjadi perebutan kekuasaan. Akhirnya disepakati untuk menerapkan sistem demokrasi dalam pemilihan pemimpin yang disebut presiden setiap tiga tahun sekali. Tidak ada jabatan wakil presiden, dalam menjalankan tugas-tugasnya, presiden akan dibantu oleh sekretaris. Konsep tatanan pemerintah dibuat oleh pengacara Batavia, dijalankan pada 1913.

Hingga akhirnya Depok diserahkan kepada pemerintah Indonesia pada tahun 1952 oleh presiden terakhir, Matijs Jonathans melalui akta penyerahan tanah partikulir.

Jika dilihat dari Depok sebagai kotamadya memang usianya baru menginjak 22 tahun. Namun jika dilihat dari sejarah kota Depok sebelum menjadi bagian dari wilayah Jawa Barat, Indonesia, maka usianya bisa mencapai lebih dari tiga abad. Telah merdeka sebelum Indonesia. (AR)