Sawit Disorot Soal Isu Keberlanjutan, Respons Pengusaha

TBS
TBS Kelapa Sawit

Jakarta|EGINDO.co   -Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) optimistis sawit Indonesia masih tetap kompetitif di tengah kecenderungan negara-negara tujuan ekspor sawit Indonesia yang mulai menuju sawit berkelanjutan.

Sekjen Gapki Eddy Martono mengatakan bahwa banyak negara yang kerap barkampanye menolak sawit Indonesia namun sejatinya masih tetap membutuhkan sawit.

Misalnya, Eropa yang masih membutuhkan minyak sawit dari Indonesia, meski kerap berkampanye ‘no palm oil’. Sekadar informasi, Eropa berupaya menghapuskan penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel lewat implementasi Renewable Energy Directived (RED) II.

Eddy mengungkapkan, Eropa hanya menghapuskan penggunaan minyak sawit Indonesia hanya untuk biodiesel.

Namun, saat Eropa krisis minyak nabati akibat konflik Rusia-Ukraina, benua biru masih meminta sawit Indonesia.

Baca Juga :  Jadwal PMPL ID Spring 2022

Bahkan label no palm oil pun mereka tutup dan hilangkan, artinya sebenarnya mereka membutuhkan minyak sawit Indonesia. Impor mereka pun tidak berkurang, kecuali sewaktu diawal pandemi,” ujar Eddy kepada Bisnis, Rabu (9/11/2022).

Eddy pun tetap optimis minyak sawit Indonesia tetap kompetitif meski dua pasar ekspor utama Indonesia India dan China misalnya, telah mulai menunjukkan sinyal-sinyal transisi menuju industri sawit berkelanjutan yang bisa berdampak pada akses pasar produk sawit asal Indonesia. India telah meluncurkan aliansi sawit berkelanjutan ‘Sustainable Palm Oil Coalition for India (IndiaSPOC) dan Tiongkok selama 4 tahun terakhir juga telah menelurkan beberapa inisiatif hijau.

“Perkebunan sawit di Indonesia baik perusahaan maupun petani wajib ISPO [Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia] dan perusahaan anggota Gapki 78 persen sudah sertifikasi ISPO,” ujar Eddy. 

Baca Juga :  Aktivitas Pabrik China Tak Terduga Kembali Tumbuh

Lebih lanjut, Eddy menjelaskan bahwa tantangan industri sawit saat ini masih masalah kampanye negatif. Sedangkan di dalam negeri masalah masih rendahnya produktivitas. hal ini karena produktivitas di tingkat petani masih sangat rendah.

“Ini membutuhkan percepatan peremajaan sawit rakyat. Kalau produktivitas tidak naik sementara kebutuhan untuk energi juga naik, maka dikhawatirkan ke depan akan terjadi persaingan antara pangan dan energi,” ungkapnya.

Sumber: Bisnis.com/Sn

Bagikan :