Catatan: Fadmin Malau
TAK bosan bosannya pihak PT Pertamina Patra Niaga merelis berita tentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi seperti Pertamax dan lainnya dengan berbagai alasan klasik, kondisi geopolitik dan lainnya.
Bagi masyarakat Indonesia wajar saja menjengkelkan dan fluktuasi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) selalu menjadi topik hangat yang memicu perdebatan. Sedih memang karena bumi Indonesia menghasilkan minyak. Hebatnya bukan saja di dalam bumi akan tetapi di atas bumi Indonesia juga menghasilkan minyak. Ada minyak fosil di dalam tanah, dan ada minyak sawit di atas tanah. Luar biasa.
Nah, Indonesia penghasil minyak. Arab Saudi juga penghasil minyak dari dalam buminya dan dari atas buminya tidak ada minyak sawit, hanya ada pohon kurma. Dari dua negara sama-sama penghasil minyak ini sangat berbeda ketika kita mengisi tangki kendaraan di Arab Saudi dengan di Indonesia.
Pertama, tidak pernah kita melihat antrian kenderaan di Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) untuk mobil. Kalau untuk sepeda motor tidak ada sebab di Arab Saudi hampir tidak ada terlihat sepeda motor, semua yang ada di jalan raya adalah mobil dengan harga ratusan hingga miliaran rupiah.
Kedua, SPBU itu di kota-kota Arab Saudi seperti Makkah, Madinah, Thaif, Jeddah dan lainnya. Namun, mengejutkan jika kita mengisi bahan bakar kendaraan di SPBU di Arab Saudi yang akan melayani kita para petugas atau pekerja asing, bukan warga negara Arab Saudi karena warga Arab Saudi sudah senang hidupnya, jadi tidak mau dan umumnya pekerja asing seperti Bangladesh, Pakistan, India dan terkadang bertemu dengan warga negara Indonesia.
Ketiga, soal harga membuat kita bingung dan bertanya-tanya sebab Indonesia dan Arab Saudi sama-sama memiliki kekayaan minyak bumi, perbandingan harga BBM di kedua negara ini menyimpan fakta yang cukup mengejutkan.
Kini, PT Pertamina Patra Niaga mengungkapkan potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) seperti Pertamax bisa berada di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 20.000 per liter. Hal tersebut seiring dengan reli harga minyak mentah acuan dimana pada Jumat 11 September 2026 harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman November 2026 ditutup melemah US$ 3,02 atau 2,81% ke US$ 104,61 per barel.

Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto menjelaskan, kondisi geopolitik saat ini menjadi pemicu tingginya harga minyak. Jika dibandingkan, ia menilai perang Timur Tengah dan ketegangan di Selat Hormuz saat ini memiliki efek yang lebih parah dibandingkan perang Ukraina-Rusia.
“Dulu waktu perang Ukraina-Rusia tidak separah ini. Dengan adanya perang di Timur Tengah, ternyata dampaknya secara global, selain ketersediaan energi di dunia, juga terhadap harga yang saat ini belum stabil ya,” kata Eko dalam temu media di Terminal BBM Rewulu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Menurutnya hal tersebut berdampak pada peningkatan harga BBM. Bahkan, terdapat potensi harga Pertamax mencapai Rp 20.000 per liter apabila ketegangan geopolitik tak mereda dan minyak global tak kunjung kembali ke level US$ 60-US$ 70 per barel. “Harga Pertamax, Dex, dan lain-lain itu akan di kisaran antara di angka Rp 18.000 sampai Rp 20.000 karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia,” kata Eko.
Namun, kalau hanya soal minyak global tidak kunjung kembali ke level US$ 60-US$ 70 per barel dan tentang perang Timur Tengah serta ketegangan di Selat Hormuz saat ini bagi negara negara di teluk seperti Arab Saudi, Oman yang berhubungan langsung dengan Selat Hormuz tetang tenang saja soal harga BBM yang dinikmati warganya.
Hal itu berdasarkan pantauan EGINDO.com pada sejumlah SPBU di Arab Saudi dan Oman. Bila melihat angka di papan SPBU secara mentah, harga BBM di Arab Saudi saat ini sebenarnya tetap stabil dan normal, tidak berpengaruh dengan semua yang dikatakan Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto itu.
Lihat saja di Arab Saudi untuk bensin jenis RON 91 atau kualitasnya berada diantara Pertalite dan Pertamax, Arab Saudi mematok harga di kisaran 2,18 Riyal per liter, jika dikonversikan ke dalam Rupiah, nilainya berada diangka Rp9.000 lebih per liter.
Hal yang menarik untuk varian bensin nonsubsidi premium di Indonesia dibandingkan dengan di Arab Saudi. Lihat seperti RON 95, harganya 2,30 Riyal atau sekira Rp10.000 lebih per liter. Nah, RON 95 tentunya di Indonesia itu jenis BBM Pertamax Green.
Kondisi harga BBM di Arab Saudi membuat warganya tersenyum lebar saat mengisi bensin dimana bila dibandingkan dengan pendapatan per kapita Arab Saudi yang berkali-kali lipat lebih tinggi daripada Indonesia, pengeluaran untuk BBM hanya memakan porsi yang sangat kecil dari dompet bulanan warganya.
Disamping itu warga Arab Saudi memiliki banyak mobil, satu keluarga minimal memiliki dua mobil, tidak memiliki sepeda motor. Mobil yang dimiliki selalu mobil keluaran terbaru karena harganya murah bila dibandingkan dengan di Indonesia karena Arab Saudi tidak mengenakan pajak kendaraan bagi para pemilik mobil.
Tentang harga BBM di Arab Saudi dengan di Indonesia memiliki strategi berbeda yakni strategi dibalik Kilang Minyak. Perbedaan itu terlihat dari kebijakan moneter masing-masing negara. Arab Saudi pemerintahnya menerapkan batas atas (price cap) yang ketat untuk melindungi konsumen domestik dari lonjakan harga minyak mentah dunia. Sedangkan di Indonesia pemerintahnya menyeimbangkan APBN dengan menyalurkan subsidi energi, dimana harga BBM nonsubsidi sangat fluktuatif mengikuti nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dan harga minyak mentah dunia.
Nah, hal itulah membuat angka-angk di papan harga pada SPBU kedua negara menunjukkan angka yang berbeda, belum lagi perbedaan isi kantong kedua masyarakat negara itu sangatlah berbeda. Sedih ya, mau bilang apa?
***