Saham SMDR Tertekan 29%, Tapi Dividen dan Ekspansi Timur Tengah Jadi Harapan

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Saham PT Samudera Indonesia Tbk. (SMDR) masih menghadapi tekanan sepanjang 2026. Namun, di balik koreksi harga yang cukup dalam, prospek emiten pelayaran ini masih ditopang oleh valuasi yang relatif murah, pembagian dividen interim, serta ekspansi jaringan ke pasar Timur Tengah.

Pada perdagangan Jumat (28/8/2026), saham SMDR ditutup sementara di zona merah. Harga sahamnya melemah 0,64% menjadi Rp310 per saham pada akhir sesi pertama. Jika dihitung sejak awal tahun, saham SMDR telah terkoreksi sekitar 29,86%.

Penurunan tersebut membuat valuasi saham SMDR berada pada level yang cukup rendah. Berdasarkan data perdagangan, rasio price to earnings (PER) perseroan berada di kisaran 5,18 kali.

Dari sisi pembagian keuntungan, Samudera Indonesia mulai melakukan pembayaran dividen interim tahun buku 2026 pada Jumat (28/8/2026). Dividen yang diberikan mencapai Rp2,5 per saham dengan total nilai sekitar Rp40,93 miliar.

Pembagian dividen menjadi salah satu daya tarik SMDR di tengah tekanan harga saham. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa perseroan masih memiliki kapasitas untuk mengalokasikan sebagian laba kepada pemegang saham sekaligus menjaga arus kas untuk kebutuhan bisnis.

Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Wisnubroto sebelumnya menilai pembagian dividen interim umumnya menjadi sinyal positif bagi pasar. Kebijakan tersebut mencerminkan kondisi kas perusahaan yang memadai dan kepercayaan manajemen terhadap keberlanjutan kinerja bisnis.

Menurutnya, perusahaan dengan sejarah pembagian dividen yang konsisten juga berpotensi mendapatkan apresiasi valuasi karena investor melihat adanya kepastian terhadap imbal hasil investasi.

SMDR Bidik Pertumbuhan dari Timur Tengah

Selain mengandalkan kinerja operasional, Samudera Indonesia tengah memperkuat jaringan pelayarannya untuk menangkap peluang pertumbuhan perdagangan internasional.

Perseroan kembali melayani kawasan Timur Tengah dengan strategi menghindari jalur yang memiliki risiko geopolitik tinggi. Langkah tersebut memungkinkan SMDR tetap menghubungkan pasar Asia dan Timur Tengah tanpa harus melewati Selat Hormuz.

Direktur Utama Samudera Indonesia Bani Mulia mengatakan perseroan memilih pendekatan tersebut untuk menjaga kesinambungan layanan sekaligus mengendalikan risiko operasional.

Ekspansi diperkuat dengan peluncuran Khor Fakkan–India Express (KIX) pada pertengahan Juli 2026. Layanan mingguan tersebut menghubungkan Nhava Sheva dan Mundra di India dengan Khor Fakkan di Uni Emirat Arab.

Kehadiran KIX memperluas konektivitas SMDR antara India, kawasan Teluk, dan Asia. Jaringan tersebut melengkapi cakupan pelayaran perseroan di Asia Tenggara, China, Jepang, dan Korea.

Strategi diversifikasi rute menjadi penting bagi SMDR di tengah ketidakpastian perdagangan global. Dengan tidak bergantung pada satu jalur, perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk mengalihkan aktivitas apabila terjadi gangguan pada rute tertentu.

Fundamental SMDR Masih Bertumbuh

Ekspansi jaringan tersebut juga ditopang oleh kinerja keuangan yang positif pada semester I/2026.

Samudera Indonesia membukukan pendapatan US$421,8 juta, naik dari US$379,1 juta pada semester I/2025. EBITDA meningkat lebih signifikan menjadi US$132,8 juta dari US$96,3 juta.

Sementara itu, laba bersih perseroan mencapai US$32,5 juta, dibandingkan US$29,3 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan demikian, pendapatan SMDR tumbuh sekitar 11,3% secara tahunan, sedangkan EBITDA meningkat hampir 38%. Laba bersih juga masih mampu tumbuh sekitar 10,9%.

Kinerja tersebut menjadi modal bagi perseroan untuk melanjutkan ekspansi sekaligus mempertahankan kebijakan pembagian dividen.

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, terutama perubahan tarif angkutan laut, kondisi perdagangan global, harga komoditas, serta perkembangan geopolitik yang dapat memengaruhi jalur pelayaran internasional.

Dengan valuasi PER yang relatif rendah, fundamental yang masih tumbuh, dividen interim, dan ekspansi jaringan Timur Tengah, SMDR kini berada pada persimpangan antara tekanan harga saham dan peluang pemulihan kinerja. (Sn)

Scroll to Top