Saham Dividen Jadi Andalan Saat IHSG Tertekan

Ilustrasi investasi saham dividen sebagai benteng pertahanan portofolio saat pasar (IHSG) mengalami tekanan.
Ilustrasi investasi saham dividen sebagai benteng pertahanan portofolio saat pasar (IHSG) mengalami tekanan.

Jakarta|EGINDO.co Saham-saham berdividen tinggi mulai menjadi pilihan defensif investor di tengah tekanan pasar saham sepanjang 2026. Indeks IDX High Dividend 20 (IDXHIDIV20) tercatat mengalami koreksi lebih moderat dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 5 Oktober 2026, IDXHIDIV20 turun 15,78% secara year-to-date (YtD), sementara IHSG terkoreksi jauh lebih dalam sebesar 29,24%.

Selain memiliki kinerja yang relatif lebih tahan terhadap tekanan pasar, sejumlah konstituen IDXHIDIV20 juga mulai membagikan dividen interim tahun buku 2026.

PT Astra International Tbk. (ASII), misalnya, akan membagikan dividen interim sebesar Rp98 per saham dengan total nilai sekitar Rp3,9 triliun. Namun, kinerja ASII pada semester I/2026 masih mengalami tekanan. Laba bersih perseroan tercatat Rp12,53 triliun, turun 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Anak usaha Astra, PT United Tractors Tbk. (UNTR), juga akan membagikan dividen interim sebesar Rp430 per saham dengan nilai maksimal Rp1,478 triliun. Di sektor perbankan, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) telah dua kali membagikan dividen interim sepanjang tahun ini, masing-masing Rp20 dan Rp25 per saham.

Sementara itu, PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) tetap mempertahankan komitmennya terhadap pembagian dividen dengan tetap menyeimbangkannya dengan kebutuhan investasi dan keberlanjutan bisnis.

Analis menilai kondisi tersebut membuka peluang terjadinya rotasi investor ke saham-saham berdividen tinggi. Namun, strategi tersebut tidak cukup hanya dengan mengejar dividend yield terbesar.

Analis Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama mengatakan keunggulan IDXHIDIV20 terhadap IHSG masih berpotensi berlanjut. Kendati demikian, investor perlu memperhatikan ketahanan laba, keberlanjutan payout ratio, valuasi, serta potensi penurunan kinerja emiten.

Menurutnya, saham dengan yield tinggi akan lebih menarik apabila didukung fundamental kuat sehingga mampu mempertahankan pembagian dividen sekaligus membuka peluang kenaikan harga saham.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menambahkan, dalam kondisi pasar yang volatil, dividend yield memberikan daya tarik lebih nyata dibandingkan potensi capital gain. Namun, investor perlu memastikan bahwa dividen berasal dari laba yang berkelanjutan, bukan sekadar akibat harga saham yang turun tajam atau pembagian laba ditahan.

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai sejumlah saham masih menarik dicermati, di antaranya BBCA, BMRI, BBRI, ASII, TLKM, INDF, PTBA, ITMG, dan UNTR.

Dengan demikian, IDXHIDIV20 berpotensi menjadi salah satu tujuan rotasi dana, terutama bagi investor domestik. Meski demikian, investor tetap perlu selektif dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan, keberlanjutan dividen, valuasi, kondisi rupiah, suku bunga global, dan risiko pasar. (Sn)

Scroll to Top