New York | EGINDO.co – Bursa saham AS ditutup melemah pada hari Senin dan nilai tukar dolar AS menyentuh level terendah dalam dua bulan terhadap euro. Hal ini terjadi setelah data ekonomi AS yang lemah—termasuk penurunan tak terduga dalam penjualan ritel—mendorong pasar untuk mengurangi spekulasi mengenai langkah kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.
Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2007. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran mengenai arah kebijakan fiskal AS yang berpadu dengan penerbitan utang korporasi dalam jumlah besar terkait sektor kecerdasan buatan (AI).
Pergerakan saham tertekan saat investor menantikan laporan keuangan kuartalan dari peritel besar untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi konsumen AS. Laporan yang dinanti termasuk dari perusahaan perlengkapan rumah Home Depot (dijadwalkan rilis hari Selasa) dan raksasa ritel Walmart (dijadwalkan rilis hari Kamis).
“Kekhawatiran terhadap data yang lebih lemah belakangan ini membuat pasar cenderung lesu dan menantikan laporan laba sektor ritel untuk menentukan arah selanjutnya,” ujar Phil Blancato, kepala strategi pasar di Osaic Wealth.
Blancato menambahkan bahwa volume perdagangan sering kali rendah pada bulan Agustus, saat banyak pelaku pasar sedang berlibur.
“Ada kombinasi antara kelesuan aktivitas pasar di musim panas dan sikap menunggu data mengenai kondisi konsumen,” kata Blancato.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,51 persen, S&P 500 melemah 0,52 persen, dan Nasdaq Composite turun 0,31 persen.
Indeks saham global MSCI turun 0,35 persen, sementara indeks pan-Eropa STOXX 600 melemah 0,22 persen.
Ketidakpastian mengenai dampak ekonomi dari perang Iran, yang dimulai pada bulan Februari, juga turut menekan pasar saham.
“(Investor) meyakinkan diri mereka sendiri bahwa perang pasti akan berakhir. Saya rasa tidak ada yang memperhitungkan kemungkinan bahwa konflik ini masih akan berlangsung saat kita mendekati akhir musim panas,” kata David Morrison, analis pasar senior di Trade Nation.
Harga minyak ditutup naik lebih dari US$2 pada hari Senin di tengah kekhawatiran pasokan global yang dipicu oleh pesimisme investor terhadap upaya diplomatik untuk menyelesaikan perang, menyusul tuntutan Presiden AS Donald Trump agar Iran menyerah serta ancamannya untuk mengebom Oman. Harga minyak mentah AS terakhir tercatat naik 2,74 persen menjadi $84,66 per barel, sementara minyak Brent naik menjadi $90,81 per barel, meningkat 2,59 persen pada hari itu.
Nilai tukar dolar melemah seiring para pedagang menunda ekspektasi mereka mengenai langkah kebijakan The Fed berikutnya. Data inflasi harga konsumen dan produsen bulan Juli yang moderat—yang dirilis pekan lalu—meningkatkan harapan bahwa tekanan harga terburuk mungkin telah berlalu, meskipun ketidakpastian akibat perang masih terus berlanjut.
Penurunan tak terduga dalam penjualan ritel bulan lalu menambah kekhawatiran bahwa ekonomi AS mungkin tidak setangguh yang diperkirakan sebelumnya.
Indeks dolar, yang mengukur nilai mata uang AS terhadap sekeranjang mata uang lain termasuk yen dan euro, turun 0,06 persen ke level 99,6. Euro menguat 0,09 persen menjadi $1,1579 dan sempat menyentuh $1,1614, level tertinggi sejak 17 Juni.
Pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 35 persen bagi The Fed untuk mengambil langkah kebijakan bulan depan—turun dari sekitar 55 persen pada pekan sebelumnya—sementara peluang adanya langkah kebijakan pada bulan Desember berada di angka 69 persen.
Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) meningkat setelah pemerintah AS harus membayar tingkat bunga tertinggi sejak tahun 2001 dalam lelang obligasi tenor 30 tahun pekan lalu.
Imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun naik 2,79 basis poin menjadi 4,724 persen. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun naik 4,43 basis poin menjadi 5,3103 persen, level tertinggi sejak 2007.
“Tiga rilis data ekonomi yang lemah seharusnya mendorong penurunan imbal hasil obligasi tenor panjang. Namun, yang terjadi justru obligasi tenor 30 tahun dilelang dengan imbal hasil tertinggi sejak 2001, dan imbal hasil kini bahkan lebih tinggi lagi. Prospek fiskal yang memburuk, pasokan obligasi korporasi tenor panjang yang didorong oleh faktor AI, serta basis pembeli yang lebih sensitif terhadap harga turut menjelaskan penyebabnya,” tulis analis Barclays Capital, Anshul Pradhan, dalam sebuah catatan pada hari Senin. Di pasar logam mulia, harga emas spot naik 1,02 persen menjadi $4.420,41 per ons.
Sumber : CNA/SL