Saham Asia Naik Tipis Saat Aksi Jual Chip Mereda; Pasar Menanti CPI AS

ilustrasi Saham Asia
ilustrasi Saham Asia

Hong Kong | EGINDO.co – Saham-saham Asia bergerak naik tipis pada hari Rabu karena saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) mulai pulih setelah aksi jual sebelumnya, namun kenaikan tersebut tertahan oleh tingginya harga minyak dan sikap hati-hati menjelang rilis data inflasi AS yang dijadwalkan hari ini.

Di antara perusahaan dalam rantai pasok AI, produsen cip Samsung Electronics dan SK Hynix mencatat kenaikan lebih dari 2 persen di Korea Selatan, sementara Kioxia di Jepang bergerak stabil, memulihkan sebagian kerugian dari sesi perdagangan sebelumnya.

Indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,5 persen setelah bursa saham AS ditutup dengan penurunan tipis pada sesi sebelumnya. Indeks Nikkei Jepang naik 0,2 persen dan Kospi Korea Selatan menguat 1,8 persen.

Namun, sentimen pasar tetap diliputi kehati-hatian akibat tingginya harga minyak, dipicu oleh kekhawatiran pasokan energi menyusul serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) kelompok Houthi terhadap Arab Saudi.

Harga minyak mentah AS naik tipis 0,8 persen menjadi US$94,96 per barel, sementara minyak mentah Brent naik ke level US$106,6 per barel.

“Setelah aksi jual yang dipicu sektor cip di kawasan ini kemarin… pelaku pasar akan memantau apakah volatilitas pada indeks-indeks utama mulai mereda. Situasi geopolitik global dan dampaknya terhadap pasar energi tidak akan membantu situasi ini,” ujar analis Kyle Rodda dari Capital.com.

Sebagai tanda lain dari sikap menghindari risiko, harga obligasi tenor panjang menguat karena investor mencari aset yang lebih aman. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun yang menjadi acuan stabil di angka 5,221 persen setelah sempat menyentuh level terendah dalam hampir dua minggu, sementara imbal hasil obligasi tenor 30 tahun bertahan di 5,569 persen setelah sempat turun selama tiga hari berturut-turut.

Di Wall Street semalam, saham-saham perbankan AS melemah menyusul laporan kinerja kuartalan yang beragam dari Citigroup dan bank-bank lainnya, yang turut membebani pasar secara keseluruhan.

Kontrak berjangka (futures) saham AS, yakni S&P 500 e-minis, tercatat naik 0,04 persen ke level 7.858,8. Menanti Data CPI

Pelaku pasar menantikan data indeks harga konsumen (CPI) AS pada hari Rabu, dengan harapan mendapatkan petunjuk mengenai prospek suku bunga Federal Reserve.

Secara rata-rata, para ekonom memperkirakan inflasi umum (headline inflation) meningkat menjadi 3,6 persen secara tahunan pada bulan September akibat kenaikan kembali harga energi, sementara CPI inti naik 0,2 persen secara bulanan.

“Risikonya adalah CPI inti mencatatkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan akibat kuatnya permintaan konsumen dan biaya yang lebih tinggi, sehingga mendorong ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Oktober serta memperkuat nilai tukar dolar AS,” ujar Carol Kong, ahli strategi mata uang di Commonwealth Bank of Australia.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, investor memperhitungkan adanya peluang sebesar 22 persen untuk kenaikan suku bunga pada bulan Oktober menjelang rilis data CPI tersebut.

Presiden Federal Reserve New York, John Williams, menyatakan bahwa The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga acuannya sekali lagi tahun ini untuk meredam inflasi, namun ia menilai tidak ada kebutuhan untuk kenaikan suku bunga pada tahun 2027.

Indeks dolar, yang mengukur nilai mata uang AS terhadap mata uang sejumlah mitra dagang utama, turun ke level 102,17. Nilai tukar euro relatif tidak berubah di angka $1,1202.

Pelaku pasar juga menantikan data inflasi Tiongkok pada hari Rabu, sembari mencari tanda-tanda pemulihan permintaan domestik di tengah tekanan deflasi.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top