New York | EGINDO.co – Saham-saham Wall Street melemah pada hari Senin (28/9) seiring terus meningkatnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS setelah Presiden AS Donald Trump menolak tawaran Iran untuk gencatan senjata selama tujuh hari.
Harga minyak juga naik, meskipun harga minyak mentah berakhir jauh di bawah level tertinggi sesi perdagangan karena para pedagang merasa lega setelah Trump mengisyaratkan harapannya agar perundingan tetap berlanjut.
Pasar juga mencermati laporan dari media pemerintah Iran yang menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dijadwalkan bertemu dengan para mediator Qatar di New York pada hari Senin.
Indeks-indeks Wall Street bergerak di zona merah sepanjang sesi perdagangan, dengan indeks S&P 500 yang mencakup pasar luas ditutup turun 0,8 persen.
“Kebuntuan yang terus berlanjut antara Washington dan Teheran mengguncang pasar di awal pekan ini, sementara imbal hasil obligasi melonjak ke tingkat yang sangat tinggi,” ujar Jose Torres dari Interactive Brokers. “Premi geopolitik yang mendongkrak harga minyak memicu kekhawatiran di Wall Street bahwa The Fed akan memperketat kebijakan moneter secara signifikan untuk menekan inflasi.”
Pasar Eropa bergerak lesu sepanjang hari; bursa London dan Frankfurt ditutup turun 0,1 persen, sementara bursa Paris berakhir stagnan.
Pasar Asia berakhir dengan hasil yang beragam karena para pelaku pasar juga merespons langkah Washington dan Beijing yang memperpanjang gencatan senjata perdagangan pada akhir pekan lalu.
Di tengah belum adanya tanda-tanda berakhirnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, harga gas alam Eropa juga naik pada hari Senin. Sementara itu, menurut organisasi otomotif RAC, harga rata-rata solar di Inggris mencapai rekor tertinggi, mendekati angka dua poundsterling per liter.
Di sisi lain, “harga emas merosot dari level tertinggi musim panas karena investor bereaksi terhadap penguatan dolar AS—yang membuat logam mulia tersebut menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang selain dolar,” kata direktur investasi AJ Bell, Russ Mould.
Pada Sidang Umum PBB pekan lalu, Iran memaparkan rencana penghentian permusuhan yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, sebuah langkah yang diharapkan dapat meredakan krisis pasokan energi parah yang telah memicu lonjakan biaya global. Jalur perairan ini merupakan kunci bagi pengiriman minyak dan gas dunia serta kini menjadi pusat konflik antara AS dan Iran, terutama setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menguasai seluruh pesisir Laut Merah Yaman, termasuk Selat Bab al-Mandab yang juga merupakan jalur pelayaran vital.
Pada hari Sabtu, Trump secara terbuka menolak usulan terbaru Iran untuk mengakhiri perang, namun pada hari Minggu ia mengatakan kepada media AS, Axios, bahwa ia memperkirakan perundingan akan kembali digelar dalam waktu dekat.
Kantor berita pemerintah IRNA pada hari Senin mengutip sumber anonim yang dekat dengan delegasi PBB yang menyatakan bahwa tidak ada lagi perundingan yang dijadwalkan dengan AS.
Namun, lembaga penyiaran pemerintah Iran menyebutkan bahwa Araghchi akan bertemu dengan perwakilan Qatar; pertemuan tersebut diperkirakan akan berfokus pada “pesan-pesan yang dipertukarkan dengan Amerika Serikat melalui pihak perantara… khususnya terkait syarat-syarat yang ditetapkan Iran untuk pembukaan kembali Selat Hormuz.”
Sumber : CNA/SL