Oleh: Jaka Anindita
Sebelum mengajak siswanya menyelami pemrograman serta pemanfaatan kecerdasan buatan, tentu saja para guru mesti terlebih dulu mengenali apa dan bagaimana kedua hal tadi. Ini yang terjadi saat Sekolah Eka Tjipta dan Dinas Pendidikan Kecamatan Marau, Kabupatan Ketapang, Kalimantan Barat menyelenggarakan rangkaian Pelatihan Pembelajaran Mendalam, Koding dan Kecerdasan Artifisial.
“Kami sangat mendukung inisiatif Kelompok Kerja Guru atau Gugus 3 Kecamatan Marau dalam membawa teknologi mutakhir seperti AI dan koding ke ruang kelas kita di Ketapang. Ini bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak. Guru-guru kita harus menjadi garda terdepan dalam mengenalkan kemampuan komputasional kepada siswa, agar anak-anak di Ketapang tidak hanya menjadi penonton di era digital, tapi mampu menjadi pemecah masalah yang handal,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kecamatan Marau, Hasan saat mengawali kegiatan yang berlangsung sepanjang 19 hingga 20 Januari 2026.
Puluhan guru dari berbagai satuan pendidikan di Gugus 3 Kecamatan Marau yang berasal dari SD Eka Tjipta Kenanga, SD Eka Tjipta Kencana, SDN 15 Marau, SDN 20 Marau, SDN 10 Marau, SDN 02 Marau dan SDN 16 Marau turut mengikuti pelatihan yang nantinya mereka manfaatkan membangun ekosistem digital di wilayah kerjanya, bersama para siswa.
Tidak sekadar hadir, para pendidik menunjukkan antusiasme tinggi dalam sesi praktikum. “Awalnya saya mengira koding itu sangat rumit dan AI hanya untuk ahli IT. Namun, pelatihan dengan model In-On-In ini membuktikan bahwa teknologi bisa menjadi alat yang sangat hebat untuk guru. Kami belajar bagaimana beralih dari metode hafalan yang membosankan ke pembelajaran bermakna. Kami berkomitmen untuk langsung mempraktikkannya agar siswa kami memiliki kemampuan pemecahan masalah (computational thinking) sejak dini,” ungkap seorang guru dari SDN 10 Marau, Rohana membagikan pengalamannya mengenai perubahan paradigma yang ia rasakan setelah pelatihan.
Dalam pelatihan yang menjadi bagian program prioritas Kemendikbudristek untuk membekali guru jenjang SD dan SMP dengan keterampilan masa depan, sekaligus memastikan implementasi Kurikulum Merdeka semakin bermakna, tidak hanya membagikan hal-hal teknis seputar perangkat lunak, tetapi juga filosofi mengajar yang baru. Seperti disampaikan instruktur pelatihan, Tri Yuliati bahwa integrasi AI dan koding adalah sarana untuk mencapai pembelajaran mendalam.
“Tujuan utama kita bukan sekadar mencetak programmer, melainkan melatih logika berpikir dan kemampuan memecahkan masalah. Dengan deep learning, kita menggeser fokus dari sekadar menghafal menjadi memahami makna. Kecerdasan Artifisial hadir sebagai asisten untuk membantu guru mendesain materi yang lebih personal bagi setiap murid. Guru-guru di Gugus 3, terutama dari Sekolah Eka Tjipta, menunjukkan kesiapan tinggi untuk mengadopsi perubahan ini,” urai Tri Yuliati.
Menurutnya, model In-On-In memastikan para guru tidak hanya mempelajari teori di kelas, tetapi nantinya benar-benar mampu mengimplementasikannya secara nyata di lapangan. Selepas menguasai kemampuan berpikir komputasional, tiba giliran para guru untuk mengajak siswa didiknya semakin kreatif sekaligus inovatif di ruang kelas dan dalam keseharian mereka.@
***