Rusia Mencantumkan AS , Ceko Sebagai Negara Tidak Bersahabat

Presiden Vladimir Putin
Presiden Vladimir Putin

Beijing | EGINDO.co – Pemerintah Rusia pada hari Jumat menambahkan Amerika Serikat dan Republik Ceko ke dalam daftar negara bagian yang “tidak bersahabat”.

Menurut Reuters, misi diplomatik AS tidak dapat lagi mempekerjakan staf lokal sementara misi Ceko dapat mempekerjakan maksimal 19 orang.

Langkah itu dilakukan di tengah meningkatnya pertikaian diplomatik antara Rusia dan beberapa negara Eropa.

Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani undang-undang bulan lalu untuk membatasi jumlah staf lokal yang bekerja di misi diplomatik asing dan lembaga lainnya.

Dia memerintahkan pemerintah untuk membuat daftar negara bagian “tidak bersahabat” yang akan dikenakan pembatasan.

Sejak itu, pemerintah membentuk daftar negara asing yang “melakukan tindakan tidak ramah” terhadap Federasi Rusia, warga negara atau badan hukum Rusia.

Negara-negara ini akan menerima batasan jumlah karyawan yang dipekerjakan secara lokal atau sepenuhnya dilarang mempekerjakan staf Rusia di misi diplomatik mereka.

Menyusul pengumuman itu, juru bicara kementerian luar negeri Maria Zakharova berkata “tentu saja, AS ada dalam daftar ini.”

Rusia-AS. Hubungan memburuk dengan cepat setelah Joe Biden meningkatkan tekanan pada Kremlin sejak menjadi presiden AS pada Januari.

Washington pada bulan April mengumumkan sanksi dan pengusiran 10 diplomat Rusia sebagai pembalasan atas apa yang dikatakannya sebagai campur tangan Kremlin dalam pemilihan AS, serangan dunia maya besar-besaran, dan aktivitas bermusuhan lainnya.

Sebagai tanggapan, Rusia mengusir 10 diplomat AS, melarang pejabat tinggi AS memasuki negara itu dan melarang kedutaan AS mempekerjakan warga negara asing.

Ketegangan juga meningkat dengan Republik Ceko setelah Praha menuduh intelijen militer Rusia berada di balik ledakan mematikan di gudang amunisi di Republik Ceko timur pada tahun 2014.

Moskow mengatakan bulan lalu akan membatasi jumlah staf kedutaan Ceko dalam tindakan balas dendam setelah negara UE mengumumkan akan mengusir puluhan diplomat Rusia.

Sumber : CGTN/SL