Rupiah Tertekan Sentimen Global dan Defisit APBN, Dolar AS Diproyeksi Tembus Rp17.430

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026. Mata uang Garuda diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.380 hingga Rp17.430 per dolar Amerika Serikat (AS), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap faktor global maupun domestik.

Dari sisi eksternal, sentimen utama datang dari memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan kedua negara kembali meningkat setelah masing-masing pihak saling menuduh melanggar kesepakatan gencatan senjata. Situasi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap keamanan jalur distribusi energi dunia, terutama di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak global.

Kondisi geopolitik itu turut mendorong investor global mencari aset aman, termasuk dolar AS. Di saat yang sama, pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve yang mengisyaratkan suku bunga acuan AS akan bertahan tinggi lebih lama juga memperkuat posisi greenback di pasar keuangan internasional.

Penguatan indeks dolar membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan tambahan. Arus modal asing dinilai masih cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko di tengah ketidakpastian global yang belum mereda.

Sementara itu, dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada kondisi fiskal pemerintah. Posisi utang pemerintah hingga Maret 2026 tercatat mencapai Rp9.920,42 triliun atau setara 40,75 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut dinilai masih dalam batas aman, namun tetap menjadi perhatian investor terkait ruang fiskal pemerintah ke depan.

Selain itu, realisasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada kuartal I/2026 yang mencapai Rp240,1 triliun turut memengaruhi sentimen pasar. Defisit yang melebar meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap ketahanan fiskal nasional di tengah tekanan ekonomi global.

Kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut membuat pergerakan rupiah diperkirakan masih volatil sepanjang perdagangan hari ini. Pelaku pasar juga menanti arah kebijakan moneter global serta langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan pasar keuangan internasional. (Sn)

Scroll to Top