Rupiah Terkapar di Rp17.666, BI Didorong Kerek Suku Bunga dalam RDG Mei 2026

Logo Bank Indonesia (BI)
Logo Bank Indonesia (BI)

Jakarta|EGINDO.co Bank Indonesia (BI) tengah menghadapi ujian berat dalam menjaga stabilitas moneter domestik. Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan berlangsung pada 19—20 Mei 2026 menjadi momen krusial, di mana otoritas moneter didesak untuk memperketat kebijakan menyusul rontoknya nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level psikologis baru di Rp17.666 per dolar AS.

Kondisi ini memicu gelombang proyeksi dari para analis pasar. Mayoritas ekonom menilai ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75% sudah sangat terbatas. Intervensi pasar yang agresif dinilai perlu segera diambil guna mengembalikan kepercayaan investor.

Dilema BI: Tarik-Menarik Antara Inflasi dan Nilai Tukar

Di satu sisi, fundamental ekonomi dalam negeri sebenarnya menunjukkan performa yang cukup solid. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2026 masih kuat, dan tingkat inflasi per April berada di level yang sangat aman, yakni 2,42% (year-on-year). Rendahnya inflasi ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang memilih untuk meredam gejolak dengan menahan harga BBM bersubsidi.

Namun, tantangan terbesar justru datang dari eksternal. Menurut laporan teranyar dari Bloomberg, penguatan indeks dolar AS yang perkasa (greenback super-cycle) dipicu oleh eksploitasi suku bunga tinggi global dan lonjakan harga minyak mentah dunia. Kombinasi ini memperlebar risiko inflasi barang impor (imported inflation) serta mengancam kesehatan fiskal akibat potensi membengkaknya beban subsidi energi.

Peta Proyeksi Ekonom: Dari Moderat hingga Agresif

Menyikapi situasi tersebut, para pengamat ekonomi terpecah ke dalam dua kubu utama, meskipun mayoritas condong pada opsi pengetatan:

1. Skenario Kenaikan Moderat (+25 bps)

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk., Josua Pardede, bersama Ekonom Makroekonomi LPEM FEB UI, Teuku Riefky, memprediksi BI akan mengambil langkah terukur dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,00%.

Riefky menggarisbawahi bahwa amunisi BI mulai terbatas. Bank sentral tercatat telah menguras cadangan devisa hingga lebih dari US$10 miliar dalam empat bulan pertama tahun ini hanya untuk menstabilkan kurs. Oleh karena itu, kenaikan BI Rate dipandang sebagai langkah krusial untuk memperluas instrumen pertahanan rupiah tanpa harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi yang sedang berjalan baik.

2. Skenario Pengetatan Agresif (+50 bps)

Pandangan yang lebih berani datang dari Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia. Ia mendesak BI untuk menerapkan strategi front-loading dan ahead the curve dengan langsung mengerek suku bunga sebesar 50 bps.

Fakhrul memperingatkan adanya risiko Dornbusch overshooting—sebuah fenomena di mana nilai tukar melemah secara ekstrem dan melampaui titik keseimbangannya akibat pasar menilai bank sentral lambat merespons. Jika BI berani mengambil langkah agresif ini, didukung oleh fleksibilitas instrumen makroprudensial, Fakhrul optimistis rupiah berpeluang rebound ke kisaran Rp16.800 per dolar AS.

3. Skenario Bertahan (Status Quo)

Berbeda dengan sejawatnya, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk., David Sumual, memperkirakan BI masih memiliki ruang untuk menahan suku bunga acuan. Selama inflasi domestik tetap bergerak dalam rentang target sasaran BI ($\pm2,5\%$) dan tidak ada keputusan mendadak terkait kenaikan harga BBM bersubsidi atau Pertamax, David menilai BI masih akan mempertahankan kebijakan saat ini untuk menjaga momentum pertumbuhan.

Analisis Global: Tantangan Policy Anchor Pasar Berkembang

Tekanan yang dialami Indonesia sejatinya mencerminkan tren yang lebih luas di kawasan Asia Tenggara. Lembaga pemeringkat internasional, Reuters, dalam analisis pasar terbarunya menyebutkan bahwa bank-bank sentral di negara berkembang saat ini tidak bisa lagi sekadar mengacu pada data historis inflasi domestik dalam menetapkan kebijakan moneter.

Kredibilitas makroekonomi kini dipertaruhkan. Ketika pasar obligasi ikut bergejolak—terlihat dari imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun yang merangkak naik ke level 6,82%—6,86%—maka kebijakan moneter harus berfungsi sebagai jangkar keyakinan pasar (policy anchor). (Sn)

Scroll to Top