Jakarta|EGINDO.co Memasuki awal bulan kedua di tahun 2026, stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (USD) kembali menjadi pusat perhatian otoritas moneter dan pelaku pasar global. Berdasarkan data Transaksi Bank Indonesia yang diperbarui pada pagi ini, Rupiah berada dalam rentang volatilitas yang cukup tajam, mencerminkan dinamika pasar keuangan domestik yang tengah menghadapi ujian berat.
Sesuai dengan pemutakhiran per 2 Februari 2026, posisi nilai tukar tercatat sebagai berikut:
| Mata Uang | Satuan | Kurs Jual (IDR) | Kurs Beli (IDR) |
| USD | 1 | 16.879,98 | 16.712,02 |
Tekanan pada mata uang Garuda pada awal pekan ini dipicu oleh akumulasi sentimen domestik dan global. Sebagaimana dilaporkan oleh Kontan, salah satu pemicu utama adalah ketidakpastian yang muncul pasca peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait pembekuan perubahan bobot indeks saham Indonesia. Hal ini memicu kekhawatiran akan terjadinya arus modal keluar (capital outflow) dari pasar modal Indonesia.
“Investor kini semakin mencermati kualitas tata kelola dan transparansi di pasar keuangan. Jika respons otoritas tidak cukup meyakinkan, tekanan terhadap Rupiah berpotensi terus berlanjut hingga menguji level psikologis Rp17.000 per USD,” ungkap analis ekonomi senior dalam tinjauannya.
Di sisi lain, laporan dari Kompas memberikan sudut pandang yang lebih moderat dengan menyoroti bahwa fundamental ekonomi makro Indonesia sebenarnya masih berada dalam jalur yang stabil. Cadangan devisa yang memadai dan surplus neraca perdagangan yang konsisten diharapkan mampu menjadi bantalan kebijakan bagi Bank Indonesia untuk melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar di pasar DNDF maupun pasar spot.
Para pengamat mata uang memperkirakan bahwa sepanjang Februari 2026, Rupiah akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.900. Keberhasilan pemerintah dalam menjaga kepercayaan investor global serta efektivitas intervensi Bank Indonesia dalam menjaga likuiditas valuta asing akan menjadi kunci utama dalam meredam depresiasi lebih lanjut. (Sn)