Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang turut mendorong lonjakan harga energi dunia.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa eskalasi konflik tersebut telah meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap prospek inflasi global. Situasi ini mendorong investor global mengalihkan dana ke aset-aset yang dianggap lebih aman sehingga memicu arus keluar modal dari sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia.
Mengutip data Bloomberg, kurs rupiah pada Kamis pagi tercatat berada di kisaran Rp18.023 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi penutupan perdagangan sehari sebelumnya. Pelemahan ini juga sejalan dengan tekanan yang dialami sejumlah mata uang di kawasan Asia.
Untuk meredam gejolak pasar, Bank Indonesia menegaskan akan terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi yang terukur dan berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain menjaga stabilitas nilai tukar, bank sentral juga memperkuat daya tarik instrumen keuangan domestik melalui pengelolaan suku bunga yang lebih kompetitif guna mempertahankan aliran modal masuk ke Indonesia.
Di sisi lain, Bank Indonesia terus memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi internasional melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Kerja sama tersebut telah berjalan dengan sejumlah negara mitra seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus meminimalkan risiko fluktuasi nilai tukar.
Sejumlah media ekonomi nasional seperti CNBC Indonesia dan Bisnis Indonesia juga menyoroti bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, melainkan terutama berasal dari sentimen global yang memicu penguatan dolar AS dan meningkatnya permintaan aset safe haven di pasar internasional.
Meski rupiah melemah sekitar 7,44 persen sejak awal tahun, Bank Indonesia menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga. Salah satu indikatornya adalah posisi cadangan devisa yang masih berada pada level tinggi, yakni sebesar 146,2 miliar dolar AS hingga akhir April 2026. Cadangan devisa tersebut dinilai memadai untuk mendukung stabilitas sektor eksternal serta menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap perekonomian nasional.
Dengan berbagai langkah yang telah disiapkan, Bank Indonesia optimistis gejolak nilai tukar dapat dikelola dengan baik sehingga stabilitas sistem keuangan dan momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung. (Sn)