Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat dengan menembus level Rp17.011. Sejalan dengan itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut mencatat kenaikan tajam mendekati 3 persen, mencerminkan pulihnya kepercayaan investor di pasar keuangan domestik.
Penguatan ini terjadi setelah meredanya tensi geopolitik global, terutama usai tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran selama dua pekan. Kondisi tersebut memberikan sentimen positif ke pasar, termasuk penurunan harga minyak dunia yang sebelumnya sempat meningkat akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan bahwa penguatan rupiah dan lonjakan IHSG merupakan respons alami pasar terhadap berkurangnya ketidakpastian global. Ia menilai stabilitas mulai kembali terbentuk seiring meredanya risiko eksternal yang sempat menekan pasar keuangan.
“Ketika ketidakpastian global menurun, pasar langsung merespons positif. Rupiah menguat dan IHSG juga mengalami kenaikan signifikan,” ujarnya di kawasan Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Lebih lanjut, Purbaya menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sejatinya tetap solid. Tekanan yang terjadi sebelumnya lebih dipengaruhi oleh dinamika global, bukan karena melemahnya kondisi domestik. Ia juga optimistis bahwa tren positif ini dapat berlanjut apabila stabilitas global terus terjaga.
Sejumlah analis pasar yang dikutip oleh Bloomberg dan Reuters turut menilai bahwa meredanya konflik geopolitik menjadi katalis utama bagi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Selain itu, arus modal asing yang kembali masuk ke pasar saham domestik juga memperkuat kinerja IHSG dalam beberapa hari terakhir.
Dengan sentimen global yang mulai kondusif, pelaku pasar kini mencermati arah kebijakan moneter global serta perkembangan lanjutan dari dinamika geopolitik sebagai faktor penentu pergerakan pasar ke depan. (Sn)