Jakarta|EGINDO.co Rupiah kembali menunjukkan kekuatan dengan pembukaan perdagangan menguat ke Rp16.347,5 per dolar AS, yang merupakan penguatan sebesar 0,03% dibandingkan penutupan sebelumnya. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) justru menguat 0,22% ke level 98,03.
Berbagai sentimen global menjadi pendorong pergerakan rupiah hari ini:
-
Harapan pemangkasan suku bunga The Fed menyelimuti pasar seiring sinyal dovish dari Ketua The Fed, yang dianggap mendukung pelemahan dolar AS.
-
Ketegangan geopolitik, termasuk tension antara Trump dan The Fed serta konflik Rusia–Ukraina, turut menambah ketidakpastian pasar.
-
Kebijakan tarif impor AS–India juga menjadi katalis, di mana kenaikan hingga 50% memicu kekhawatiran terhadap prospek perdagangan global.
Analisis teknikal menunjukkan bahwa support diperkirakan berada di Rp16.380 per dolar AS. Bila tembus, rupiah berisiko tertekan lebih jauh ke rentang antara Rp16.410 hingga Rp16.450, bahkan bisa mencapai Rp16.500–16.700 per dolar AS jika kondisi sosial-politik dalam negeri meningkat memanas.
Dari sudut pandang domestik, pasar menyambut positif aksi demonstrasi di Gedung DPR/MPR RI, yang sebagian besar berlangsung tertib. Namun, analis memperingatkan bahwa eskalasi sosial bisa memicu jual asing dan menekan rupiah.
Selain itu, laporan Kontan menyebut bahwa rupiah di pasar spot Kamis (28/8) menguat sekitar 0,09%, mendekati level Rp16.353 per dolar AS, meski patut diantisipasi karena ketidakpastian seputar independensi The Fed dan potensi tekanan terhadap dolar AS.
Proyeksi pergerakan rupiah Jumat ini:
-
Pengamat Ibrahim Assuaibi memprediksi bahwa rupiah akan berfluktuasi namun tetap berada di kisaran Rp16.340–16.400 per dolar AS.
-
Sedangkan analis Lukman Leong menyampaikan bahwa ruang apresiasi rupiah masih terbuka, meski diperkirakan bergerak di rentang cukup lebar, yakni Rp16.250–16.400 per dolar AS, mengingat tekanan sosial memicu kehati-hatian investor.
Rupiah dibuka menguat tipis hari ini di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya tertanggulangi. Sentimen pembebasan potensi penurunan suku bunga, konflik perdagangan, dan ketidakpastian sosial-politik dalam negeri membuat rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp16.340–16.400 per dolar AS, dengan risiko turun ke level lebih rendah jika situasi memburuk.
Sumber: Bisnis.com/Sn